REVIEW STIGLITZ : MENUJU PARADIGMA BARU PEMBANGUNAN DAN PENERAPAN DI INDONESIA

Posted on

Oleh :

Advian, Aryanti, Esti, Octo, Prabowo, Roland

PARADIGMA LAMA PEMBANGUNAN

Stiglitz berpendapat bahwa paradigma lama dalam pembangunan ekonomi dititik beratkan dan diukur pada pertumbuhan PDB perkapita. Terdapat tiga alasan yang diungkapkan. Pertama, paradigma lama gagal dalam menterjemahkan sebab dan akibat suatu pertumbuhan perekonomian. Kedua, Paradigma lama berpandangan bahwa dengan meningkatnya pendapatan perkapita, akan mengakibatkan berkurangnya angka kemisknan. Terhadap alasan kedua ini, Stiglitz mengkritisi bahwa moderenisasi sistem perekonomian merupakan penyebab peningkatan PDB perkapita dan bukan sebaliknya. Ketiga, pertumbuhan ekonomi dilakukan dengan meningkatkan cadangan modal dan memperbaiki alokasi sumber daya. Selanjutnya, dengan adanya pertumbuhan ekonomi ini, diharapkan akan meningkatkan pendapatan masyarakat dan tingat pertumbuhan akan berlangsung dalam jangka panjang. Stiglitz berargumen bahwa paradigma lama gagal melihat konteks yang lebih luas karena hanya berfokus secara sempit pada ekonomi yang menyebabkan kebingungan dalam membedakan alat dengan tujuan maupun sebab dengan akibat.

Selama lebih dari 4 abad pembangunan dipandang sebagai permasalahan ekonomi — efisiensi dalam pengalokasian sumber daya (negara maju dan belum maju dianggap sama kecuali dalam hal ini). Ekonom kiri dan kanan berbeda strategi dalam meningkatkan alokasi sumber daya dan melihat peran pemerintah. Ekonom kiri menganggap bahwa sumber masalah adalah kegagalan pasar sehingga butuh campur tangan pemerintah untuk mengarahkan ekonomi menjadi lebih efisien dalam pengalokasian sumber daya. Ekonom kanan menganggap sumber masalahnya adalah pemerintah, ketika tidak ada campur tangan pemerintah, pasar akan dengan sendirinya mengarah pada alokasi sumber daya yang efektif

Pada tahun 1980-an fokus bergeser ke masalah makroekonomi (“penyesuaian” dalam ketidakseimbangan fiskal dan kebijakan moneter yang salah arah) sehingga menyebabkan pasar tidak mungkin berfungsi dengan baik.

Paradigma pembangunan lama melihat pembangunan sebagai masalah teknis yang membutuhkan solusi teknis juga. Tidak menggali ke dalam masyarakat atau percaya bahwa diperlukan pendekatan partisipatif. Selain itu juga kurang mempertimbangkan konteks sejarah.

PARADIGMA BARU PEMBANGUNAN

Munculnya Paradigma Baru

Munculnya konsepsi yang baru dalam melakukan pembangunan dilatarbelakangi oleh beberapa peristiwa penting, yakni :

  1. Runtuhnya ekonomi sosialis/komunis dan berakhirnya Perang Dingin. Saran pembangunan harus disesuaikan dengan situasi negara tersebut.
  2. Keterbatasan Konsensus Washington. Ekonomi butuh infrastruktur kelembagaan.
  3. Keajaiban Asia Timur. Pemerintah berperan besar dan sukses mentransformasi masyarakatnya, menitikberatkan pada pendidikan dan teknologi.

Tiga peristiwa tersebut diatas telah memberikan suatu gambaran bahwa selama ini konsep pendekatan pembangunan yang dilakukan dengan lebih menekankan pada sisi ekonomi telah gagal, sehingga diperlukan pemahaman baru dalam konsep pembangunan yang  ada dengan paradigma pembangunan baru. Selain itu pembangunan yang terjadi, masih belum mempertimbangkan struktur budaya lokal yang berbeda di masing-masing daerah maupun negara.

Hal-hal inilah yang menjadi pertimbangan untuk menjadikan landasan teoritis bagi munculnya paradigma yang baru untuk pembangunan, khususnya di negara-negara berkembang.

Paradigma yang ditawarkan untuk melakukan pembangunan adalah konsep pembangunan yang lebih luas. Pembangunan dijelaskan sebagai sebuah perubahan dari pola tradisional (hubungan yang tradisional, cara berpikir tradisional, kesehatan dan pendidikan tradisional dan memproduksi secara tradisional) ke modern. Perubahan yang terjadi meliputi segala aspek mulai dari pola pikir, cara dan tujuan serta perubahan digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Sehingga konsep pembangunan bukan tujuan akhir melainkan pembangunan adalah cara untuk mencapai tujuan lain. Konsep pembangunan ini menitik beratkan adanya pertimbangan keadaan Negara dan peran pemerintah dalam pembangunan

Hal ini dilakukan dengan menyadari bahwa adanya kriteria yang dapat diukur lebih dalam untuk melihat tingkat keberhasilan pembangunan yang diterapkan dan dilaksanakan oleh masing-masing negara.

Strategi Paradigma Baru Pembangunan

Strategi pembangunan baru yang dikemukakan dalam paradigm ini memfokuskan pengembangan transformasi masyarakat sebagai tujuan intinya. Pendekatan ini menekankan partisipasi masyarakat untuk ikut serta bersama-sama melakukan pembangunan.

Strategi pembangunan baru tidak hanya akan meningkatkan PDB per kapita, tetapi juga standar hidup, sebagaimana dibuktikan oleh standar kesehatan dan keaksaraan. Paradigma baru ini meliputi 3 isu penting, yaitu : Konsep pembangunan strategi, konsep katalis perubahan masyarakat secara luas dan partisipasi, rasa memiliki dan peran pihak eksternal.

Sebuah strategi pembangunan menjelaskan mengenai perlunya ditetapkan visi transformasi, apa masyarakat akan sama seperti sepuluh sampai dua puluh tahun dari sekarang. Visi ini dapat merangkul tujuan kuantitatif , pandangan transformasi lembaga, penciptaan modal sosial baru dan kapasitas baru, dalam beberapa kasus untuk menggantikan lembaga tradisional yang pasti akan melemah dalam proses pembangunan. Dalam kasus lain, lembaga baru akan berisi di dalamnya unsur-unsur yang lama, akan ada proses evolusi dan adaptasi. Strategi pembangunan bukan hal yang kaku(blue print) melainkan dokumen hidup: perlu diatur bagaimana itu harus dibuat, direvisi, dan diadopsi, proses partisipasi, sarana yang kepemilikan dan konsensus yang akan diperoleh, bagaimana detail akan keluar. Strategi pembangunan harus didasarkan skala prioritas berdasarkan ketepatan kebutuhan, waktu dan kelompok sasaran

Sebagai tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tentunya masyarakat (society) harus menjadi aktor/pelaku dalam kegiatan pembangunan yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara langsung. Dalam hal ini, Stiglitz menjelaskan, salah satu kunci keberhasilan pembangunan di dalam rumusan strategi, kebijakan, dan proses paradigma baru pembangunan nya adalah adanya partisipasi masyarakat, dan rasa kepemilikan, sehingga kegiatan prioritas pembangunan yang akan dilakukan dapat diusulkan oleh masyarakat yang kemudian difasilitasi kedalam program pembangunan oleh negara untuk dilaksanakan bersama-sama dengan masyarakat, yang diformulasikan kedalam strategi pembangunan, yang terdiri dari pembangunan sektor privat, pembangunan sektor publik, pembangunan masyarakat, pembangunan keluarga, dan pembangunan individu. Tentunya perlu di dukung oleh kapabilitas dan kemampuan dalam hal sumber daya, ilmu/pengetahuan, dan lembaga yang mumpuni, serta dilandasi oleh sikap konsistensi, hubungan yang saling melengkapi, dan saling menyempurnakan kegiatan pembangunan yang dilakukan

PENERAPAN PARADIGMA BARU PEMBANGUNAN DI INDONESIA

Penerapan paradigma baru dalam pembangunan dapat dilihat dalam uraian sebagai berikut:

  1. Konsep Strategi Pembangunan

Menurut Stiglitz tujuan utama pembangunan adalah transformasi masyarakat dengan tujuan terukur. Melihat tahapan pembangunan dalam RPJPN 2005 – 2025, Indonesia sudah mengarah kepada transformasi masyarakat, karena tujuan akhir dari RPJM 4 adalah mewujudkan masyarakat yang mandiri, maju,adil dan makmur melalui percepatan pembangunan di segala bidang dengan struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif. Saat ini kita masuk ke dalam periode RPJMN ke-3 (2015-2019). Namun ukuran dari keberhasilan pembangunan di Indonesia masih berupa peningkatan PDB, meskipun sudah mempertimbangkan faktor-faktor seperti kemiskinan, infrastruktur, dan pendidikan. Selain itu RPJPN berperan sebagai blueprint pembangunan di Indonesia, sementara menurut Stiglitz strategi pembangunan kurang tepat disebut sebagai “blueprint” karena sulit untuk dilakukan sebab memerlukan terlalu banyak informasi yang tidak diketahui saat ini. Strategi pembangunan sebaiknya merupakan “living document” yang perlu ditetapkan bagaimana akan dibuat, direvisi, dan diadopsi, proses partisipasinya, cara mendapatkan konsensus dan rasa kepemilikan, serta bagaimana mewujudkan detailnya. Kami berpendapat bahwa strategi pembangunan di Indonesia masih belum memaksimalkan partisipasi dan konsensus dari masyarakat, karena strategi pembangunan yang dituangkan dalam RPJPN masih bersifat top down.

  1. Fungsi Strategi Pembangunan.

Menurut Stiglitz strategi pembangunan memiliki fungsi sebagai penentu prioritas dan adanya kesadaran akan pentahapan, melakukan koordinasi baik antar pemerintah, pemerintah dengan swasta, dan antar swasta, serta membangun konsensus sehingga tercipta stabilitas sosial dan politik maupun rasa kepemilikan. Dalam hal ini Indonesia sudah menetapkan prioritas dan melakukan pentahapan seperti yang tertuang dalam RPJPN 2005-2025 dimana pembangunan dibagi menjadi 4 tahap. Namun meskipun Indonesia telah melakukan desentralisasi, penetapan prioritas dan pentahapan dalam pembangunan masih bersifat top down karena musrenbang yang dilakukan belum optimal, di samping masalah koordinasi baik antar pemerintah pusat, maupun antara pemerintah pusat dan daerah masih belum berjalan dengan baik. Hal ini terlihat dari belum sejalannya output yang ingin dicapai antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Belum lagi koordinasi antara pemerintah dengan sektor swasta yang juga belum sinergis.

  1. Komponen Strategi Pembangunan

Menurut Stiglitz, komponen strategi pembangunan terdiri dari pembangunan sektor swasta, pembangunan sektor publik, pembangunan komunitas, pembangunan keluarga, dan pembangunan individu. Pembangunan di sektor swasta di Indonesia masih belum mengarah ke arah pembangunan sektor swasta yang kuat, kompetitif, stabil, dan efisien karena daya saing industri swasta nasional masih rendah. Hal ini ditambah dengan kualitas tenaga kerja di Indonesia yang masih rendah (didominasi oleh unskilled labor).

Pembangunan sektor publik di Indonesia sedang digalakkan dengan dicanangkannya reformasi birokrasi untuk meningkatkan pelayanan publik dan peningkatan belanja infrastruktur dengan bermitra dengan sektor swasta.

Pembangunan komunitas di Indonesia dilakukan melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Di Indonesia pembangunan keluarga telah banyak dilakukan antara lain melalui program keluarga berencana yang dilakukan oleh BKKBN dan program keluarga harapan oleh Kementerian Sosial.

Pembangunan individu di Indonesia penerapannya dilakukan dalam bentuk program wajib belajar 12 tahun dan program jaminan kesehatan nasional.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa pembangunan di Indonesia sudah mengarah kepada paradigma baru pembangunan yang dipaparkan oleh Stigliz meskipun belum sepenuhnya sesuai dengan konsep tersebut. Ada beberapa faktor dari strategi pembangunan di Indonesia yang masih menggunakan paradigma lama karena keterbatasan-keterbasan yang dihadapi di lapangan.

 

2 thoughts on “REVIEW STIGLITZ : MENUJU PARADIGMA BARU PEMBANGUNAN DAN PENERAPAN DI INDONESIA

    Aar said:
    Oktober 1, 2015 pukul 6:34 am

    Analisanya bagus wo, qt terlalu menggantungkan indikator sukses pembangunan di pdb per kapita..terlalu eksak klo kata dosen2 di benua tetangga padahal kesejahteraan, ujung dari pembangunan, tdk selalu dpt diukur secara kuantitas. Tapi memang dalam prakteknya pdb per kapita merupakan indikator yg plg sederhana dan gampang diukur. Mungkin perlu ada indikator yg sifatnya sosial sebagainpenunjang. Sama apa betul rpjm itu blue print? Bukan guide line? Krn rpjm cmn dijadikan acuan pembangunan di daerah bukan template atau cetakan…debat literaturnya ditulisan dibanyakin wo biar tambah asik

      Prabowo Bukan Subianto responded:
      Oktober 1, 2015 pukul 8:24 am

      itulah beda paradigma lama dan paradigma baru. pada paradigma baru, pembangunan tidak hanya ekonomi, tetapi sosial, manusia, dan politik. Indikatornya berupa indeks pembangunan manusia, indeks kesejahtraan rakyat, dan partisipasi dalam demokrasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s