CITA – CITA JADI WARTAWAN : Mempertahankan Netralitas Koran Tempo

Posted on Updated on

tempo-300x226Tempo merupakan salah satu media nasional yang menjadi pilihan utama pembaca dalam mencari berita. Tulisannya yang singkat, padat dan ukuran koran yang mengacu pada surat kabar diluar negeri menjadikan tempo lebih mudah diterima masyarakat dibandingkan surat kabar nasional lainnya.  Selain berita yang akurat, kunci sukses tempo sebenarnya terletak pada kenetralan tempo dalam menyampaikan berita. Tulisan-tulisan di koran tempo tidak berpihak pada golongan tertentu. Tempo tidak beraliansi pada partai politik manapun, tempo juga tidak menjadi surat kabar pemerintah. Dalam menyampaikan berita tempo berusaha untuk jujur. Pemberitaan disampaikan dengan berimbang dan tidak provokatif. Tidak ada unsur kesukuan dan keagamaan, semua dimata tempo adalah sama. Kenetralan tempo dapat kita lihat dalam insiden memalukan di Maluku awal juli lalu.

Dalam insiden bendera RMS dimana terjadi saling menyalahkan antara TNI dan BIN, tempo menunjukan netralitasnya dengan menulis pemberitaan yang berimbang. Ketidakberpihakan tempo ditunjukan dengan memuat pernyataan kedua lembaga tersebut. Tempo memuat pernyataan Janzi Sofyan anggota staf khusus Kepala Badan Intelijen Negara yang menyangkal pernyataan Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto dan Kepala Kepolisian RI Jenderal Sutanto yang menganggap lembaga telik sandi ini kecolongan. “Kami sudah memperingatkan soal kemungkinan kejadian itu jauh-jauh hari, kami tidak kecolongan” ujar Janzi Sofyan.

Sedangkan dari pihak TNI, tempo memuat pernyataan Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto yang membantah pernyataan Janzi. “Panglima TNI mengakui adanya informasi dari BIN sebelum acara itu. Tapi BIN cuma memberi tahu bahwa akan ada demonstrasi , bukan aksi pengibaran bendera RMS” katanya.

Perimbangan berita merupakan bentuk kejujuran tempo dalam menuliskan berita. Berita disampaikan sesuai dengan apa yang disampaikan oleh narasumber. Berita tidak dilebih-lebihkan dan dikurang-kurangi. Sebisa mungkin tulisan yang dimuat berasal dari berbagai macam sumber. Sehingga pembaca diberi hak penuh dalam menyimpulkan suatu persoalan sebuah topik tulisan. Hak pembaca dapat kita lihat dalam rubrik film. Dalam menulis resensi sebuah film, tempo biasanya memaparkan kelebihan dan kekurangan sebuah film. Sehingga pembaca sendirilah yang memutuskan apakah akan menonton film itu atau tidak.

Oleh karena itu, jika saya diterima menjadi bagian dari redaksi (wartawan) tempo, saya akan tetap mempertahankan kenetralan tempo dalam menyampaikan berita. Saya akan bekerja keras mencari berita dari berbagai macam sumber yang akurat dan terpercaya. Kemudian menyampaikan berita tersebut dalam bentuk tulisan yang berimbang dan tidak berpihak pada kelompok tertentu. Saya tidak akan menjadi wartawan amplop, wartawan yang menjual kehormatan profesinya hanya demi selembar uang. Dalam menjalankan profesi  yang penuh bahaya ini saya akan berusaha menjunjung tinggi kejujuran dan kebenaran.  Saya akan berusaha menjaga kehormatan profesi ini.

Sebagai sarjana science yang pernah meraih penghargaan sebagai kreativitas terbaik Program Kreativitas Mahasiswa (bidang penelitian) dan juara harapan II Lomba Karya Inovasi Mahasiswa (bidang sains dan teknologi) dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasionak ke-XVI Solo (DIKTI, DEPDIKNAS), saya akan berusaha membuat tempo unggul dalam pemberitaan sains dan teknologi. Latar belakang pendidikan saya yang berasal dari fakultas biologi UGM akan membantu saya dalam menulis berita tentang sumber energi alternatif dari makhluk hidup (Biofuel) yang sekarang ini sedang hangat dibicarakan. Seperti yang kita tahu saat ini pemerintah Indonesia melalui BPPT sedang mengembangkan  sumber bahan bakar allternatif pengganti bensin. BPPT  telah berhasil mengembangkan minyak jarak (Jatropa sp) sebagai biodisel. Biodisel yang dihasilkan dari minyak jarak pun telah berhasil diujicobakan ke kendaraan roda empat. Di Brasil, bahan bakar alternatif yang berasal dari fermentasi tebu (etanol) telah digunakan pada kendaraan-kendaraan roda empat.

Tren sains dan tekonologi tidak hanya seputar pengembangan teknologi sumber energi alternatif ( Biofuel, biodisel dan nuklir) dan teknologi informasi (telekomunikasi dan komputer). Tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah masalah rekayasa genetika (kloning). Sebagai biolog tentunya  tulisan yang saya sampaikan mengenai masalah rekayasa genetika akan lebih mendalam, akurat dan terpecaya.

Selain keinginan-keinginan diatas, ada keinginan pribadi yang ingin saya lakukan apabila saya diterima menjadi wartawan tempo. Keinginan ini berkaitan dengan kesukaan, keahlian dan keprihatinan saya melihat kondisi realitas yang menimpa masyarakat pesisir kita. Sungguh sangat disayangkan Indonesia yang kaya akan sumber daya laut justru masyarakat pesisirnya sangat miskin, kurang gizi dan tidak berpendidikan. Oleh karena itu melalui tulisan di koran tempo, saya ingin mengeksplorasi potensi sumber daya laut dan pesisir yang ada  di seluruh wilayah Indonesia. Sehingga sumber daya laut yang ada bisa dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat pesisir di Indonesia.

Seperti yang kita ketahui, 70 % dari wilayah Indonesia adalah perairan. Indonesia mempunyai garis pantai lebih dari 81.000 km dengan 13.657 pulau. Dengan kondisi alam yang seperti itu, Indonesia kaya akan jenis-jenis ikan, rumput laut, lamun, bakau, udang-udangan, kepiting, hewan lunak, kerang, dan terumbu karang. Namun hanya sebagian kecil dari sumber daya laut tersebut yang sudah dimanfaatkan secara optimal, sedangkan sisanya masih belum termanfaatkan. Salah satu contoh yang belum dimanfaatkan secara optimal adalah rumput laut. Padahal dibandingkan dengan negara lain, Indonesia merupakan negara yang memiliki jenis  rumput laut paling beragam.

Sebagian besar produksi rumput laut di Indonesia masih merupakan hasil panen alami. Oleh karena itu, mutu, jumlah dan kesinambungan produksinya masih belum menentu. Padahal ditinjau dari keadaan alamnya, sebagian perairan pantai di Indonesia memiliki potensi untuk pengembangan usaha budidaya rumput laut. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat pesisir mengenai teknik budidaya dan pengolahan rumput laut.

Melalui tulisan-tulisan saya di tempo, saya ingin menarik minat wisatawan lokal maupun asing untuk mengunjungi pantai-pantai yang memiliki keindahan panorama alam, pulau-pulau terpencil yang menyimpan sejuta kekaguman dan keindahan bawah laut Indonesia. Saya tidak ingin kasus Ambalat terulang kembali, Indonesia dengan terpaksa harus melepas pulau yang memiliki keindahan ini ke tangan Malaysia, hanya karena pulau tersebut tidak tersentuh dan tidak diberdayakan oleh pemerintah Indonesia. Padahal Ambalat memiliki potensi menjanjikan untuk dijadikan kawasan wisata alam.

Apabila saya dikasih kesempatan menjadi bagian keluarga besar tempo, saya siap bekerja keras bersama-sama anggota keluarga tempo yang lain dalam memajukan tempo. Melalui sajian tulisan yang menarik dan akurat saya ingin tempo lebih banyak dibaca dan diterima oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Tapi yang pasti, seandainya saya diterima menjadi wartawan tempo, saya akan berusaha mempertahankan netralitas tempo dalam menyampaikan berita.

NB : Tulisan ini dibuat dalam rangka melamar menjadi wartawan di Tempo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s