IKAN HIU MONYET (ALOPIDAE) DILARANG DITANGKAP DI LAUT LEPAS INDONESIA

Posted on

Belum lama ini Kementerian Kelautan dan Perikanan mengeluarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 12 Tahun 2012 tentang Usaha Perikanan Tangkap di Laut Lepas. Hal yang menarik dan perlu diapresiasi dalam peraturan menteri ini adalah dimuatnya Bab X mengenai Tindakan Konservasi dan Pengelolaan Hasil Tangkapan Sampingan (Bycacth) yang secara ekologi terkait dengan perikanan tuna. Di dalam Pasal 39 Peaturan Menteri itu disebutkan bahwa “Setiap kapal penangkap ikan yang melakukan penangkapan ikan di laut lepas yang  memperoleh  hasil  tangkapan  sampingan  (bycatch)  yang  secara  ekologis terkait dengan (ecologically related species) perikanan tuna berupa hiu, burung laut,  penyu  laut,  mamalia  laut  termasuk  paus,  dan  hiu  monyet  wajib melakukan tindakan konservasi”.

Khusus untuk hiu monyet tindakan konservasi yang harus dilakukan tertuang dalam pasal 43 yang berbunyi : “(1) Hasil  tangkapan  sampingan  (bycatch)  yang  yang secara  ekologis  terkait dengan (ecologically related species) perikanan tuna sebagaimana dimaksud dalam  Pasal  39 berupa  hiu  monyet dengan  ketentuan  harus  dilepaskan dalam keadaan hidup; (2) Dalam hal hiu monyet yang tanpa sengaja tertangkap dalam keadaan mati, nakhoda  harus  melaporkan  kepada  kepala  pelabuhan  pangkalan  untuk dibuat surat keterangan guna dilaporkan kepada Direktur Jenderal; (3) Setiap  kapal  penangkap  ikan  yang  menangkap,  memindahkan, mendaratkan, menyimpan, dan/atau menjual hiu monyet (thresher sharks) dari  semua family  Alopiidae  baik  utuh  maupun  bagiannya  dikenakan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2)”. Sanksi yang dimaksud berupa sanksi administrasi, mulai dari peringatan, pembekuan hingga pencabutan SIPI atau SIKPI.

Perlu diketahui, peraturan menteri ini merupakan tindak lanjut dari resolusi IOTC 10/12 yang memuat larangan penangkapan hiu untuk spesies Alopias pelagicus, Alopias superciliosus dan Alopias vulpinus. Dari ketiga spesies tersebut dua spesies diantaranya terdapat di Indonesia yaitu Alopias pelagicus dan Alopias superciliosus. Sebagai negara anggota Indian Ocean Tuna Commission (IOTC), Indonesia mempunyai kewajibkan untuk menjalankan resolusi yang sudah dikeluarkan oleh Regional Fiheries Management Organisations (RFMOs) tersebut.

Hiu monyet (Thresher Shark) adalah spesies pelagis, menghuni baik di perairan pesisir dan lautan. Hiu ini dapat dengan mudah di identifikasi karena memiliki ciri sirip ekor atas yang panjang atau hampir sepanjang tubuhnya. Bentuk kepala melengkung di bagian antara mata, tidak terdapat lekukan yang dalam di bagian tengkuk. Hiu ini memiliku mata agak lebar, posisinya hampir ditengah-tengah bagian sisi kepala. Hiu monyet merupakan predator tingkat trofik paling tinggi dengan jenis makanan terdiri dari ikan-ikan kecil dan cumi Penyebaran sangat luas terdapat diperairan tropis dan sub tropis di SamuderaHindia dan Pasifik. Hiu ini tercatat dalam Daftar Merah IUCN, yang artinya perlu mendapat perhatian serius untuk menghindari dari ancaman kepunahan.

Perlu diingat, peraturan menteri ini hanya berlaku untuk kegiatan penangkapan ikan di laut lepas, yakni bagian  dari  laut  yang  tidak  termasuk  dalam  ZEEI,  laut teritorial  Indonesia,  perairan  kepulauan  Indonesia,  dan  perairan pedalaman Indonesia. Sehingga masih diperlukan regulasi nasional perlindungan hiu monyet untuk menjaga kelestarian populasinya di alam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s