AYO SELAMATKAN SEJARAH TANJUNG PRIUK (MAKAM MBAH PRIUK) DENGAN JALAN DAMAI

Posted on

Tanggal 14 April 2010 kemarin menjadi peristiwa berdarah yang kembali terulang di wilayah tanjung priuk,  namun kali ini kontesnya beda. Akibat akan dilakukannya penggusuran makam mbah priok oleh pemerintah walikota Jakarta utara, terjadi bentrokan fisik antara petugas Satpol PP dengan sekolompok masa yang ingin mempertahankan keberadaan Makam mbah priuk. Akibat bentrokan kedua belah pihak, 29 Petugas Satpol PP mengalami luka-luka akibat bentrokan yang terjadi di makam Mbah Priok, Jakarta Utara. Bahkan, ada petugas yang tangannya nyaris putus akibat sabetan senjata tajam.

Siapa Mbah Priok? Kenapa sejumlah warga seperti memiliki ikatan ideologis dengan sosoknya. Berdasarakan sumber kompas.com, Mbah Priok adalah seorang ulama. Masyarakat menyebutnya Habib. Ia dilahirkan di Palembang tahun 1727 dengan nama Al Imam Al`Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad RA. Menurut catatan, pada tahun 1756 Habib Hasan bin Muhammad bersama Al Arif Billah Al Habib Ali Al Haddad RA pergi ke pulau Jawa untuk menyebarkan agama Islam.  Mereka berlayar menuju Batavia selama dua bulan. Aneka rintangan menghadang.

Legenda yang tersebar dari mulut ke mulut, konon salah satu rintangan yang menghadang di jalan adalah armada Belanda dengan persenjataan lengkap. Tanpa peringatan, perahu Habib dihujani meriam. Namun, tak satu pun meriam mengenai kapal.

Lolos dari kejaran perahu Belanda, kapal Habib digulung ombak besar. Semua perlengkapan di dalam kapal hanyut dibawa gelombang. Yang tersisa hanya alat penanak nasi dan beberapa liter beras yang berserakan. Selanjutnya, ombak lebih besar datang menghantam lebih keras dan membuat kapal terbalik. Dengan kondisi yang lemah dan kepayahan, kedua ulama itu terseret hingga ke semenanjung yang saat itu belum bernama.

Ketika ditemukan warga, Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad sudah tewas, sedangkan Muhammad Al Hadad masih hidup. Di samping keduanya, terdapat periuk dan sebuah dayung.  Warga memakamkan jenazah Habib Hasan tak jauh dari tempatnya ditemukan. Sebagai tanda, makam Habib diberi nisan berupa dayung yang menyertainya, sedangkan periuk diletakkan di sisi makam.

Konon, dayung yang dijadikan nisan tumbuh menjadi pohon tanjung.  Sementara periuk yang semula diletakkan di sisi makam terseret arus ombak hingga ke tengah laut. Menurut cerita, selama tiga hingga empat tahun setelah pemakaman itu, warga beberapa kali melihat periuk yang terbawa ombak kembali menghampiri makam Habib.

Diyakini, kisah periuk ini yang melatarbelakangi sebutan Priok untuk kawasan di utara Jakarta ini. Sebutan “Mbah” disematkan kepada Habib Hassan kiranya merupakan penghormatan terhadap beliau. Kisah periuk nasi dan dayung yang menjadi pohon tanjung lantas dipercaya sebagai asal-muasal nama Tanjung Priok bagi kawasan tersebut. Setelah peristiwa ini, sejumlah keluarga Habib Hassan ikut pindah ke Batavia menyebarkan Islam dan mengurus makamnya.

Sementara itu, Habib Ali Al Haddad, rekan seperjalanan Habib Hassan, yang selamat sempat menetap di daerah tersebut. Ia menyebarkan agama Islam hingga ke Pulau Sumbawa. Ia menetap di Sumbawa dan wafat di sana.

Kisah perjuangan syiar Habib Hassan terus disampaikan dari mulut ke mulut. Karena perjuangan hidupnya dianggap suci, penghormatan terhadap makamnya berlangsung hingga kini. Selama sekian abad, makam itu dijadikan tempat berziarah.

Informasi terakhir dari sumber Detik.com, Pemprov DKI tidak akan melakukan penggusuran makam tersebut. Malah, makam Mbah Priok akan dijadikan situs bersejarah. Semoga saja hal ini benar-benar direalisasikan, karena dengan menghancurkan makam mbah priuk dan peninggalan sejarah yang ada di tempat tersebut, sama saja dengan kita melupakan sejarah tanjung priuk berdiri. Bung Karno berkata, “JAS MERAH, Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah”. Oleh karena itu mari segenap pihak, kita selamatkan sejarah tanjung priuk dengan jalan damai.

Diambil dari berbagai sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s