Nasib Nelayan Kita di Hari Nelayan

Posted on

“Memanusiakan Nelayan, Memuliakan Indonesia”.

Mungkin kalau pagi ini saya tidak membaca berita di kompas.com mungkin saya tidak akan ingat kalau hari ini, tanggal 6 April kita peringati sebagai Hari Nelayan. Lalu Bagaimana dengan nasib Nelayan Indonesia? Ternyata masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya, nelayan kita masih miskin dan terjerat dalam jaring-jaring tengkulak. Semua tahu bahwa negara indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau dengan luas wilayah perairan mencapai 5,8 juta km2 dan panjang pantai 95.181 km merupakan negara nomor empat terpanjang pantainya dan 75 % wilayahnya adalah lautan. Kondisi ini membuat negara ini kaya akan sumber daya laut, yang sampai saat ini masih belum dimanfaatkan secara optimal.

Pertanyaan mendasar yang selalu diajukan adalah kenapa dengan kondisi sumber daya laut yang begitu besar Masyarakat Nelayan kita masih saja miskin dan terbelakang? Nelayan adalah istilah bagi orang-orang yang sehari-harinya bekerja menangkap ikan atau biota lainnya yang hidup didasar, kolam maupun permukaan perairan. Banyak faktor yang menyebabkan masyarakat nelayan kita miskin, Penyebab pertama adalah teknologi penangkapan ikan yang masih sederhana. Nelayan kita ketika melaut masih menggunakan kapal-kapal kecil dengan peralatan tangkap yang masih sederhana. Dan ini tentunya membatasi daerah penangkapan ikan yang akan ditangkap, yang tentunya akan membatasi jumlah tangkapan ikan dan pendapatan yang dihasilkan. Faktor berikutnya sumberdaya manusianya masih belum mendapatkan pendidikan yang layak, sehingga sistem penangkapan ikan yang dilakukan masih konvensional dan kalaupun diberi bantuan peralatan tangkap dengan teknologi tinggi, masyarakat nelayan kita belum tentu bisa menggunakannya.

Sistem mata pencaharian yang masih bergantung kepada satu jenis mata pencaharian merupakan salah satu penyebab yang membuat masyarakat nelayan kita miskin. Kondisi cuaca di laut kita yang sekarang ini berubah-ubah membuat nelayan kita jarang melaut, dan apabila tidak ada alternatif mata pencaharian maka akan membuat nelayan kita tidak mendapatkan penghasilan tambahan. Tidak kalah pentingnya adalah diversifikasi dalam jenis ikan ditangkap. Nelayan kita masih terfokus pada jenis-jenis ikan tertentu yang dipengaruhi oleh musim. Jika sedang tidak musim ikan A maka nelayan kita tidak melaut, karena tidak adanya diversifikasi dalam jenis dan alat tangkap.

Faktor yang paling utama yang membuat masyarakat nelayan kita miskin adalah permodalan. Sistem perbankan kita yang masih menyaratkan jaminan dalam peminjaman modal membatasi pengembangan usaha nelayan kita. Hal ini diperparah dengan maraknya kehadiran para tengkulak yang menolong nelayan dalam peminjaman tapi mencekik dalam hal pengembalian modal. Lalu apa yang telah dilakukan pemerintah kita, dalam hal ini Kementrian Kelautan dan Perikanan(KKP).

Sebagai upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan, khususnya nelayan, pembudidaya dan pengolah ikan sebagaimana menjadi misi KKP, maka dibuat kebijakan strategis operasional minapolitan. Minapolita merupakan konsep pembangunan kelautan dan perikanan berbasis wilayah. Namun dalam membangun kawasan minapolitan sebagaimana yang dicita-citakan bagi kesejahteraan nelayan dan pembudidaya ikan membutuhkan enam persyaratan. Pertama, komitmen daerah melalui renstra, alokasi APBD dan tata ruang yang seimbang. Kedua, adanya komoditas unggulan seperti udang, patin, lele, tuna, dan rumput laut. Ketiga, letak geografis yang strategis dan secara alami cocok untuk usaha perikanan. Keempat, sistem mata rantai produksi hulu dan hilir seperti lahan budidaya dan pelabuhan perikanan. Kelima, fasilitas pendukung, seperti keberadaan sarana dan prasarana seperti jalan, pengairan serta listrik. Keenam, kelayakan lingkungan dengan kondisi yang baik dan tidak merusak.

Apabila persyaratan-persyaratan tersebut terpenuhi, maka kebijakan strategis menjadikan kawasan minapolitan sebagai kawasan ekonomi yang terdiri dari sentra-sentra produksi dan perdagangan komodtas kelautan dan perikanan, yang dapat meningkatkan pendapatan nelayan, pembudidaya dan pengolah ikan. Pada akhirnya, peningkatan pendapatan tersebut dapat meningkatkan kesejahterakan masyarakat kelautan dan perikanan. Adapan langkah-langkah yang diambil adalah; 1) Penguatan ekonomi masyarakat kelautan dan perikanan skala kecil, 2) Penguatan Usaha Menengah dan Atas (UMA), serta 3) Pengembangan ekonomi kelautan dan perikanan berbasis wilayah dengan sistem manajemen kawasasan.

Selain itu KKP melalui Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Pesisir sudah melakukan berbagai macam progam yang bertujuan mengangkat perekonomian masyarakat nelayan. Terdapat tiga program yang secara sistimatis bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, yakni Program Solar Packed Dealer untuk Nelayan (SPDN)/Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak Untuk Nelayan (SPBN), Pembangunan Kedai Pesisir, dan Program Penguatan Modal bagi masyarakat pesisir yang bekerjasama dengan lembaga keuangan. Program SPDN/SPBN bertujuan untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga BBM dengan menghadirkan SPDN/SPBN yang diharapkan memberikan pelayanan kepada masyarakat pesisir akan kebutuhan BBM dengan harga terbaik sesuai ketetapan pemerintah. Melalui program ini beban hidup masyarakat pesisir diharapkan mampu ditekan sampai pada tingkat yang signifikan. Ketiga progam tersebut masuk kedalam Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP), telah memasuki tahun ke tujuh.

Kita sebagai masyarakat yang peduli terhadap kesejahtraan masyarakat nelayan kita pun bisa membantu meningkatkan kesejahtraan nelayan kita. Membantu kesejahteraan nelayan Indonesia bukanlah suatu hal yang susah. Salah satu usaha yang mudah dilakukan masyarakat untuk menaikkan taraf hidup nelayan adalah gemar makan ikan (GEMARI). Konsumsi ikan nasional sampai saat ini baru mencapai 26 kg/ orang setahun. Berdasarkan data tingkat konsumsi ikan penduduk Indonesia ini masih di bawah standar Food Agricultural Organization (FAO). Sebesar 30 kilo gram per kapita per tahun. Tingkat konsumsi ikan di negara maju pun sangat jauh meninggalkan Indonesia. Sebagai contoh konsumsi ikan Jepang (110 kg/ kapita/ tahun), Korea Selatan (85 kg/ kapita/ tahun), Malaysia (45 kg/ kapita/ tahun) dan Thailand (35 kg/ kapita/ tahun).

Dengan tingkat konsumsi ikan yang tinggi tentunya akan memacu produktivitas ikan yang tinggi juga. Ini akan semakin memacu nelayan untuk berimprovisasi menaikkan produktivitasnya seperti kegiatan budi daya perikanan. Memang cukup ironis sekali masyarakat kita justru lebih suka makan daging darat dibandingkan ikan. Namun, budaya gemar makan ikan masih terus bisa ditingkatkan. Salah satunya melalui pendidikan sejak dini. Ayo Muliakan Indonesia dengan Memanusiakan Nelayan, Selamat Hari Nelayan !!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s