GPP dan Penanggulangan Obat Palsu

Posted on

Hari Selasa 17 Maret 2009 yang lalu diadakan acara peluncuran situs www.stopobatpalsu.com. Situs ini dipelopori oleh kelompok perusahaan farmasi multinasional berbasis riset (IPMG) dan didukung sepenuhnya oleh BPOM, Indonesia Sehat 2010, ISFI, dan IDI. Tujuan diluncurkannya situs ini adalah sebagai media edukasi agar masyarakat lebih peduli dengan obat palsu dan pada akhirnya bisa memutus rantai peredaran obat palsu.

Dalam penjelasannya, Thierry Powis – chairman IPMG, mengatakan bahwa situs tersebut akan dikelola secara profesional. Mereka menyediakan tenaga yang berdedikasi penuh terhadap situs ini. Masyarakat bisa mendapatkan berita yang terbaru maupun arsip berita lama seputar obat palsu baik dari dalam maupun luar negeri. Situs ini juga menyediakan sarana bagi masyarakat untuk berinteraksi.
Obat palsu, menurut Permenkes 1010/XI/2008,  adalah obat yang diproduksi oleh pihak yang tidak berhak berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau produksi obat dengan penandaan yang meniru identitas obat lain yang telah memiliki ijin edar.

Data akurat tentang jumlah obat palsu yang beredar saat ini belum tersedia, tapi  WHO pernah memublikasikan bahwa 10% obat yang beredar diseluruh dunia adalah palsu, sedangkan menurut laporan United States Trade Representative (USTR) tahun 2008 diperkirakan 25% dari obat yang beredar di Indonesia adalah palsu.

Edukasi yang diprakarsai oleh IPMG pada dasarnya untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan bahaya obat palsu. Melihat unjuk kerja media online yang dikelola secara profesional selama ini, www.stopobatpalsu.com berpotensi besar akan sukses mengusung misinya.

Salah satu bentuk edukasi untuk menanggulangi peredaran obat palsu adalah dengan menghimbau konsumen untuk membeli obat (terutama obat keras) hanya di apotek. Himbauan tersebut bila efektif merupakan bagian dari pemutusan rantai edar obat palsu.

Dengan demikian peran apoteker sangatlah strategis. Namun perlu diwaspadai juga, obat palsu bukan tidak mungkin merembes ke apotek. Hal ini terjadi apabila apoteker tidak menerapkan cara praktek kefarmasian yang baik (good pharmacy practice, GPP) di apoteknya.

Oleh sebab itu saya menghimbau kepada sejawat sekalian agar kita mengambil inisiatif lebih aktif lagi dalam program penanggulangan obat palsu. Salah satu bentuk kongkritnya adalah menjadikan GPP sebagai “roh” nya apotek.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s