Bintang Kan Temani Rembulan …

Posted on Updated on

c_bintanglaut“Menatap langit menelusuri kegelapan malam
Menyibak tabir sang surya membayangkan dirimu
Seperti rembulan itulah dirimu
Bias cahayamu selalu hangatkan isi bumi
Meskipun kabut tebal menyelimutimu”

Sebuah E-mail kuterima dan memasuki alam kenanganku waktu kuliah, sebuah momen yang selalu kukenang dan tidak terlupa. Oh, My God ini bulan November.. Thats Right, tgl 21 november sudah terlewat tanpa kusadari, rutinitas kerja memang membuat waktu dan pikiran tersita, sehingga aku pun lalai untuk mengucapkan selamat ULTAH ke kamu.
SElamat Ulang Tahun Yah Niz, SEMOGA BAHAGIA SELALU…
Hanya CERPEN Di Bawah Ini kado yang bisa kuberikan ke Kamu. Ok, selamat menikmati alam kenangan masa lalu..


Hangat mentari membasahai rerumputan yang bergoyang, harmonis mengikuti gerakan angin yang berhembus. Gemericik air sungai ikut menabuh cerianya pagi di sebuah desa terpencil di boyolali. Suara kicau burung membentuk alunan lagu, menyapa hati setiap orang yang mendengarnya. Suasana yang begitu natural, begitu damai tak akan pernah bisa kita temui di sudut-sudut kota besar, karena pohon-pohon telah menjadi gedung-gedung pencakar langit, burung-burung telah tergantikan perannya oleh sebuah kotak musik dan yang terdengar hanya deru suara mesin kendaraan.Yah alam akan membawa kita pergi dan akan menarik kita kembali.
“Disha berangkat yah bu, disha akan ingat semua nasihat ibu dan bapak, disha akan rajin belajar, akan selalu taat beribadah dan akan terus tegar dalam menghadapi semua tantangan yang menghadang langkah disha. Doain disha, karena hanya dengan restu ibu dan bapak, disha bisa sukses”
“Ya! ibu pasti akan doain kamu setiap hari. Hati-hati nak”
Keheningan melanda ketika ibu dan anak saling berpelukan, suasana haru –biru ikut mengantarkan kepergian seorang anak yang telah beranjak dewasa, yang telah siap melepas dekapan kasih ibu yang selama ini menghangatkan jiwanya.
“Assalamualaikum, disha berangkat”
Dengan langkah mantap dan tekad yang bulat, Disha meninggalkan rumahnya, menyusuri jalan desanya yang beraspal tanah dengan pepohonan disekelilingnya.
Disha adalah seorang perempuan kelahiran boyolali, seorang terpelajar seperti bapaknya yang mengajar, seorang gadis manis berumur 18 dengan wajah khas jawa yang tersembunyi dalam balutan jilbab. Seorang gadis yang akan menempuh kehidupan baru sebagai mahasiswi di kota pelajar.
***
“Dis..disha!”
“Ada apa rin”
“dish!kamu tahu gak? PALUNG lagi buka pendaftaran anggota baru loh, ikutan yuk! kan assyik main-main ke Pantai dan kenal dengan kakak senior, Siapa tahu bisa dapat Cowok”
“Uhh..kamu ini rin! Cowok aja yang dipikirin, Tapi boleh juga tuh, Emang sampai kapan pendaftarannya dan syaratnya apa?”
“Ehm..pendaftarannya sampai minggu depan kok! Syaratnya mudah; Cuma isi formulir pendaftaran, ikut wawancara dan ikut DIKLATNYA”
“Yah udah, kita daftar bareng-bareng yuk, kalau besok gimana?kalau hari ini aku ada praktikum Biologi umum”
“Boleh, dish kantin yuk! laper nih,kayaknya cacing-cacingku udah pada minta dipakanin nih, tapi aku gak bawa duit loh dish”.
“tenang aja aku yang bayarin, kebeneran baru dapat beasiswa nih”
Kedua mahasiswi itu berjalan menyusuri koridor kampus, melewati kerumunan mahasiswa-mahasiwa yang sedang asyik berdiskusi. Kampus UGM merupakan kampus yang sarat akan dinamika, mahasiswanya terkenal sebagai motor dan penggerak perubahan bangsa.
Suasananya yang tenang, yang jauh dari keramaian akan membuat otak-otak ini berkerja lebih fokus dalam menggali khasana ilmu pengetahuan.Rerindangan pepohonan yang memayungi ruang-ruang kuliah disertai taman yang menghiasi pojokan kampus akan melepaskan semua peluh dan penat selama otak-otak ini berkerja.
Yah kampus yang ideal. Kampus yang butuh perjuangan untuk masuk kesini, walaupun harus mengeluarkan uang yang banyak, atau kalau perlu sampai menjual sawah. Dikampus inilah Disha menimba ilmu, sudah satu tahun iya menjalani kehidupannya dikampus ini.
***
“Sup ayam” Teriak mbak catherine, penjaga kantin biologi yang walaupun udah ibu-ibu masih tetap manis.
“ya mbak”jawab seorang mahasiswa, sambil mendekati meja jualan.
“ups..” dua pasang tangan, yang satu besar sawo matang, sedangkan yang lainya kecil berkulit putih saling memegang mangkuk sup.
“Sory mbak, pesan sup juga yah”
“Yah” jawab seorang mahasiswi, yang ternyata dia adalah disha.
“yah udah duluan aja mbak, mbak catherine!Supnya yah”
“loh! Kok supnya gak dimakan sih dish, mikirin apa sih?”celetuk rini kepada disha
“Ah enggak, Rin! Kamu kenal ama cowok yang pakai kaos biru itu” gumam disha sambil melirik cowok berkaus biru yang sedang makan sup juga”
“enggak, emangnya kenapa? kamu naksir yah, ehm.. oke juga, yah udah nanti tak cariin info deh, buruan yuk”
***
Malam ini rembulan bersinar begitu terang, bintang bertaburan di langit ikut menghiasi langit dengan sinarnya. Dari balik jendela, seorang gadis berjilbab memandang jauh keatas. Kelihatannya dia sedang merenungi apa yang sedang terjadi pada dirinya sambil merasakan keheningan malam yang kian larut. “ Siapa yah cowok berkaus biru itu, kok aku jadi terngiang-ngiang yah, ah udah ah, masih banyak laporan yang harus dikerjakan”

***
“Dish! kok melamun” tegur bintang sambil memberikan sebatang coklat silver quen .
“ah..enggak, lagi asyik aja menikmati alam, makacih yah coklatnya”
Pantai selalu saja membuatku ingin berlama-berlama disana, tak peduli malam ini begitu dingin, tak peduli ombak akan bergantian menyapu tubuhku, tetap saja tubuh ini selalu menantikan sapuan sinar rembulan di sunyinya malam, menantikan romantisnya bintang temani rembulan. Apalagi malam ini kami hanya duduk berdua ditepian pantai, memandang lautan luas sambil sesekali menatap cakrawala angkasa.Sudah satu tahun ini aku dekat dengan seorang cowok, bintang namannya. Seorang mahasiswa asal Jakarta yang sok pede tapi gak pede, ketulusan hatinnya telah membuatku tentram di sampingnya, setelah lama raga ini diterpa badai.
“Dish! mau tak bacain sebuah puisi”

“Menatap langit menelusuri kegelapan malam
Menyibak tabir sang surya membayangkan dirimu
Seperti rembulan itulah dirimu
Bias cahayamu selalu hangatkan isi bumi
Meskipun kabut tebal menyelimutimu

Selalu ditemani bintang-bintang
Itulah langkahmu
Membutuhkan tembok besar tuk bersandar
Membutuhkan dermaga tuk berlabuh

Sebagai satelit bumi
Itulah posisimu
Ingin lepas dari bumi namun terikat gravitasi
Rembulan tetaplah bersinar
Bintang akan selalu menyertaimu”

“Dish, Aku Mencintaimu, aku ingin kau menjadi pasangan hidupmu, seperti bintang-bintang yang selalu menemani rembulan”tatap bintang kepada disha, sambil tangannya melipat selembar kertas yang berisikan puisi.
“Maafkan aku mas, aku masih belum siap menerima cintamu, aku takut mas..aku takut nanti kau berubah seperti batara kala yang akan menelan rembulan. Aku takut terluka seperti dulu lagi mas. Biarlah kita seperti ini, tetap bersatu dalam malam, seperti bulan dan bintang”
“tapi !!!” keheningan pun melanda kedua anak manusia yang diterpa cahaya bulan dan bintang, deburan ombak seakan tidak bisa memecah kebekuan dianatara mereka.
“tang…dish, kumpul yuk ! acara udah mau dimulai nih”
“Oh iya, tunggu bentar yah” jawab bintang. “dish, besok aku berangkat ekspedisi karimun jawa, doain aku”. Keduanya pun berjalan menuju nyala api unggun yang menawarkan kehangatan ditengah dinginnya malam.
***
“Dish..disha cepetan kesini dish !!”teriak rini di pagi hari, yang mengagetkan seantero penghuni kost-kostan.
“Ada apa rin”
“Coba kamu baca berita ini”
“……. Badai yang sangat dasyhat di laut utara Jawa telah menenggelamkan Kapal KM Muria yang akan menuju ke Kepulauan Karimun Jawa. Sampai saat ini sedang di lakukan penelusuran untuk mencari korban yang nasih selamat…”
“Innalillahi wa inna lillahi rojiun.Rin, antar aku sekarang ke jepara rin, aku ingin tahu nasib kak bintang”
“Sabar dish, oke aku temanin, tapi kamu tenang dulu, doakan saja semua baik-baik aja”
Perjalanan jogja-jepara terasa begitu cepat, Pikiranku terus berkecamuk dalam khayalan-khayaln yang mungkin terjadi, kenapa hati tak tenang, yah Tuhan ! kenapa semua ini terjadi?, kenapa ketika ku mulai belajar mencintai seseoarang, kau ingin mengambilnya, ya Tuhan lindungilah dia”.
“Disha..Rini”, teriak seorang laki-laki bertubuh pendek dikerumunan pencari korban.
“Gimana nasibnya ka bintang mas?dia selamat kan?iya kan mas Is”berondong disha kepada Mas Is, sahabat karibnya Bintang.
“Tenangkan dirimu dish, menurut tim SAR tidak ada korban yang selamat, sampai saat ini TIM SAR sedang berusaha mencari jasad para korban yang hilang, Jasad bintang sendiri belum ditemukan, berdoalah untuk bintang. Oh iya, sebelum pergi iya menitipkan kertas ini ke aku”..
Digenggamlah kertas itu dengan air mata yang berlinang. Tubuh kecil itu akhirnya terkulai lemas tak berdaya, tubuh itu tidak kuat lagi menahan dahsyatnya berita yang tak ingin dipercayainya”
***
Suasana malam ini desa di boyolali begitu tenang, begitu damai oleh kegidupan masyarakat yang harmonis. Malam ini Rembulan begitu terang sinarnya, seakan ia tahu bagaimana caranya membuai penduduk bumi dengan hangat sinarnya. 12 purnama sudah terlewati sejak kejadian tenggelamnya Kapal KM Muria. Seperti purnama-purnama sebelumnya, Disha akan melewatinya dengan kesendirian dibalik jendela kamarnya, sambil menikmati indahnya cahaya rembulan dan bintang-bintang. Dibukanya kembali secarik kertas peninggalan Bintang, dibacanya dengan wajah penuh kesedihan.

“Kutatap mega dilangit
Kuhabiskan waktu untuk menyapamu
Ada setitik harapan menetes di keningku

Pagi berganti siang, siang berganti malam
Perlahan rembulan mulai menampakan diri
Potongan bulan sabit
Mulai menyibak awan mendung yang berada disekelilingnya

Biarlah awan mendung itu melewatimu
Tapi jangan biarkan awan mendung iti bersemayam di hatimu
Tunjukan kau bisa menjadi purnama, bukan gerhana
Tunjukan bahwa kau setegar batu karang,bukan sebongkah kayu

Tetaplah bersinar rembulan
Pancarkan Cahayamu sampai ke isi bumi
Biar bumu rasakan kehangatan dirimu
Ingatlah bintang kan selalu temani
Walau tidak berada pada galaksi yang sama

Begitu dalam bait-bait yang di torehkan bintang dikertas itu, membuat air mata disha jatuh membasahi kertas yang sudah lecek itu, kertas yang meninggalkan sejuta kenangan yang tak akan terhapus oleh waktu dan zaman.

“Dish…!! ada teman kampusmu datang ” panggilan ibunya telah menyadarkan disha dari sebuah kesendirian.
“Tunggu sebentar ya bu”
“siapa yah?ah, paling juga si rini” gumam disha sambil beranjak dari kursi, dengan langkah gontai meninggalkan kamarnya.
“Assalamu’alaikum”
“WWWaaa..laiii..kuum salaam” jawab disha dengan tubuh yang gemetaran.
“gimana kabarmu dish”belum sempat menyelesaikan perkataanya, tubuh itu di tubruk oleh disha dengan sambil menitikan air mata.
“Mas bintang, kemana aja mas, kenapa meninggalkan disha dalam kesendirian, kenapa mas bintang baru datang sekarang, kenapa mas???
“Jangan pernah tinggalkan disha lagi mas, disha ingin mas bintang selalu didekat disaha”
Dibelainya kepala disha dengan lembut oleh bintang. “Dish, inilah takdir Tuhan dish, Tuhan telah merencanakan semua ini. Dish, aku tak ingin meninggalkanmu lagi, aku ingin selalu bersamamu, aku ingin kau menjadi istriku. Maukah kamu menjadi istriku?

Bulan dan bintang akan selalu menyinari bumi, sperti malam ini keduanya bersinar terang menyinari malam ini, menyelimuti bumi dengan cinta kasih-NYA.

Iklan

One thought on “Bintang Kan Temani Rembulan …

    download suara kicau burung di pagi hari | 2015 said:
    Desember 13, 2014 pukul 10:36 am

    […] >> Read Sources […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s