Kembalikan Kampusku …

Posted on Updated on

balairung95_besarSelama ini hidupku tenang-tenang saja. Kujalankan semua aktifitasku seperti mahasiswa pada umumnya, pagi kuliah, siang praktikum dan malamnya kuhabiskan waktuku untuk melahap semua bahan-bahan yang diberikan pak dosen. Hasilnya bisa terlihat pada KHS yang kuterima setiap akhir semeser, tertera 3,76 suatu indeks prestasi yang cukup membanggakan. Aku memang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatanku kuliah di universitas cukup bergengsi di jogja ini, bahkan juga di Indonesia. Apalagi butuh perjuangan keras dan biaya mahal untuk bisa masuk ke perguruan tinggi ini. Untung aku berasal dari keluarga yang ukup mampu.

Tetapi belakangan ini hidupku sedikit terganggu dengan kehadiran suatu surat yang kuterima setiap harinya.
“Kembalikan Kampusku”
Begitu isi yang tertulis pada surat yang pertama, kedua, ketiga dan sampai surat yang kesepuluh isinya masih tetap sama. Pertama-tama aku menganggap ini perbuatan teman kostku yang iseng. Karena disurat itu tidak ada cap pos kantor pengirim di amplop surat. Tidak terlihat jejak pak pos yang memasukannya kekotak surat di muka kostku. Tahu-tahu surat itu sudah berada didalamnnya, seperti dikirim dari langit. Yang bebar-benar jelas adalah namaku yang tertulis disurat tersebut.
Temen-temen kostku yang kutanyai masalah ini tidak ada yang tahu-menahu. Mereka menyangkal kalau itu perbuatan mereka. Lagipula kalau melihat isi surat tersebut memang tidak menunjukan kalau ini perbuatan temen-temen kostku. Karena mereka semua berbeda universitas denganku, jadi kuanggap ini angin lalu saja.
Namun belakangan ini, surat itu tidak hanya datang kekostku saja, tapi juga sampai ke kampusku. Hingga aku pernah mendapat teguran dari kademik karena tidak mengambil surat yang sudah bertumpuk-tumpuk di akademik. Dan isi surat itu masih tetap sama.

“Kembalikan Kampusku”
Hal inilah yang membuatku kembali ingin menyelidikinya. Kutanyai semua teman-teman kampusku dari A sampai Z, tapi jawabannya tetap sama, tidak ada satupun yang tahu-menahu masalah ini. Mereka menyangkal kalau ini perbuatan mereka.
Benar-benar pusing aku memikirkan masalah surat ini. Masalahnya kosentrasiku belajar jadi terganggu gara-gara harus memikirkan masaslah ini. Akibatnya nilai indeks prestasiku turun dari 3,75 menjadi 3,05. Bagaimana aku harus mempertanggung jawabkannya ke orang tuaku. “ Ha.. pusing”
Liburan semester ini seperti biasa kupakai waktuku untuk istirahat di rumah. Semoga dengan kehangatan dan kerharmonisan lingkungan keluargaku dapat membuatku melupakan masalah surat itu. Dan kuharap surat itu tidak datang kerumahku.
Tapi pagi-pagi aku sudah dikejutkan oleh sebuah surat yang tergeletak di pintu depan rumahku. Dan ketika kubuka surat itu, lagi-lagi tertulis :
“Kembalikan Kampusku”
Dua kata yang singkat tetapi cukup membuatku pusing. “ini sudah keterlaluan” Kataku dalam hati. Tega-teganya oarang yang berbuat iseng ini kepadaku. Apa maksud semua ini, kenapa hanya aku yang mendapat surat ini dan kenapa surat ini harus sampai kerumahku dikala aku ingin istirahat. Sepertinya surat ini telah mengekorku, kemanapun aku pergi pasti ia tahu letak keberadaanku.
Masalah ini harus segera kuselesaikan, aku harus segera kembali kekampus untuk menyelidiki masalah surat ini lagi. Kemudian kutelaah kembali isi surat tersebut:
“Kembalikan Kampusku”
Berarti sang pengirim menginginkan kembali kampusnya, dalam hal ini kampusku, karena surat ini ditujukan kepadaku. Tetapi kenapa surat ini ditujukan kepadaku, apakah aku telah merebutnya?.
Kemudian aku mencoba kemngkinan-kemungkinan yang muncul dari analisiku. Kucoba mencari si pengirim surat ini kembali yang menginginkan kampusnya dikembalikan. Kemudian kutanyai beberapa orang yang gagal ikut ujian masuk.
“Benarkah kau menginginkan bisa kuliah di kampus ini” tanyaku kepada orang yang gagal ikut ujian masuk.
“bener mas, saya ingin bisa kuliah disini, bisa mewujudkan cita-cita saya menjadi dokter”.
“Wah itu salah satu jurusan favorit dikampusku, beribu-ribu orang menginginkanya”.
“Yah, termasuk saya, tapi saya tidak cukup uang untuk mengisi lembar sumbangan pendidikan yang bernilai puluhan juta, karena saya cima anak seorang petani”. Kemudian kulihat wajah wajah laki-laki itu begitu sedih meratapi nasibnya. Lalu kutanyakan masalah surat ini, tapi dia menjawabnya tidak tahu menahu masalah srat ini.
Kemudian kulanjutkan kembali pencarianku. Kucoba berhipotesis kembali tentang si pengirim surat. Kemudian aku teringat akan temanku yang dulu pernah satu kampus denganku, namun putus kuliah. Lalu kudatangi rumahnya dan kebetulan ia sedang ada dirumah.
“Sory nih ganggu, sekarang kamu sibuk apa wi?”
“Seperti yang kamu lihat, sibuk bantuin ibu di warung”
“Kenapa kamu enggak nerusin kuliah kamu, bukankah kamu bercita-cita menjadi Sarjana farmasi”
“aku ingin sekali, tapi aku enggak mampu membayar biaya kuliah yang begitu tinggi”
“Kenapa enggak ngajuin beasiswa, bukankah nilaimu cukup tinggi?”
“Beasiswa yang kudapat tidak sebanding dengan biaya kuliah yang mencapai puluhan juta, jujur aku ingin sekali bisa kuliah dikampusku dulu, tapi apa daya uang dikantungku tidak cukup”
Kemudian kutanyakan masalah surat ini ketemanku, tapi temenku menjawab tidak tahu menahu soal surat ini. “Aku memang menginginkan bisa kuliah lagi, tapi tidak dengan perbuatan seperti ini, lagipula bukan kamu yang harus mendapatkan surat ini”. Katanya.
Tak satupun orang yang kutemui mengakuinya, termasuk temenku. Lalu siapa yang mengaku paling berhak atas kampusku ini, bukankah mahasiswa yang paling berhak atas kampus ini, termasuk aku dan temenku.
Kemudian suara perutku yang keroncongan menyadarkanku untuk pergi mencari makan. Aku paling suka makan di warung pojokan Boulevard. Penjualnya seorang kakek yang sangat ramah, menu yang ditawarkannya sangat beragam dan murah meriah.
“Makan kek, seperti biasa” pintaku padanya. Sambil menunggu pesenanku, kubaca kembali isi surat gelap yang ditujukan kepadaku.
“Kembalikan Kampusku”
Apa yah maksud surat ini yah, siapa sebenernya yang iseng mengirim surat ini padaku.
“Kek, menurut kakek siapa yang paling berhak atas kampus ini?” tanyaku kepadanya.
“Setahu kakek, kampus ini bernama kampus rakyat, berarti rakyat yang paling berhak atas kampus ini nak”
“Begitu yah kek! Berarti kampus ini tidak hanya milik mahasiswa”.
“Yah, setahu kakek begitu, tapi sekarang berbeda nak”
“Berbeda gimana kek?” tanyaku dengan penuh antusias.
“Begini nak, kalau dulu kampus ini bebas dimasuki oleh setiap orang termasuk kakek. Tapi sekarang coba lihat! Dimana-mana dipagari. Cucu kakek juga kasihan nak. Cucu kakek ingin sekali kuliah disini, tapi kami tidak mampu membiayainya, uang masuknya terlalu mahal. Kampus ini sekarang hanya untuk orang-orang berkantung tebal dan berdasi, bukan kampus rakyat lagi” cerita kakek itu.
Bener perkataan kakek itu, kampus ini telah dikomersialisasikan, sudah menjadi barang dagangan. Siapa yang menawar paling tinggilah yang berhak atas kepemilikan kampus ini. Kenapa selama ini aku tidak sadar, mungkin karena aku selalu dinina bobokan oleh kegiatan kuliah dan praktikum dikampus telah membuatku tertidur lelap. Ternyata surat ini bertujuan untuk menyadarkanku akan ketidak adilan. Tidak surat ini tidak hanya untukku, tapi untuk semua yang merasa berhak atas kampus ini. Aku harus menyadarkan mereka bahwa sebenernya merekalah yang berhak atas kampus ini, bukan milik rektorat atau kaum borjuis berdasi, mereka harus merebutnya kembali. Kemudia kutuliskan kembali surat itu, masih dengan isi yang sama.
“Kembalikan Kampusku”

Iklan

One thought on “Kembalikan Kampusku …

    Khrisna said:
    November 25, 2008 pukul 7:35 am

    Dan mereka…
    Malaikat-malaikat itu,
    Tersenyum…… berisyarat
    Dengan maksud yang tak kupahami
    Aku tertunduk… lalu….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s