PENGGALAN IMAJINASI

Posted on

“Kriing…Kriing…”
“Halo dengan Mr. Choi General Manager Farmaco distributor”
……………………..
“Perkenalkan Mr, Saya Rustam junior executive dari PT Silver Future Exchange. Saya ingin menawarkan sebuah investasi menarik ke Mr”
……………………..
“Di indeks saham gabungan Mr, produknya berupa Hanseng Indeks. Kalau Mr berminat dan ingin tahu lebih jelas, mungkin kita bisa ketemu hari ini?”
……………………..
“Bisa! Kalau begitu bagaimana kalau kita bertemu di Starbucks Coffee Plaza Sudirman jam dua siang. Saya nanti pakai kemeja panjang merah dengan dasi hitam bergaris”
…………………….
“Ehm.. Mr pakai jas biru dengan dasi biru bergaris. Ok kalau begitu, sampai ketemu nanti”

“Tut…tut..tut..” kututup gagang telepon. Ah, akhirnya dapat satu calon klien yang mau diajak ketemuan untuk diprospek. Mudah-mudahan saja ia berminat untuk berinvestasi dan bersedia menjadikanku sebagai financial advisornya. Aku harus lapor bos nih.
“Bos, aku berhasil buat janji ketemuan dengan calon klien, hari ini jam dua siang di Starbuck Coffe. Bos bisa temenin saya kan?” pintaku kepada bosku.
“Pasti Rus, kamu kan belum pengalaman menangani calon klien, kamu belum paham banget dengan produk kita dan pastinya kamu butuh dana buat membayar secangkir coffe di Starbuck kan” bosku meledek.
“Bos tahu aja. Gimana lagi bos, kantungku enggak sanggup buat membayar secangkir coffe di starbusk” kataku sambil nyengir.
“Yah udah, kalau begitu mendingan kita berangkat sekarang Rus, takut macet dijalan, biasa jam makan siang jalan sudirman pasti macet”
“Oke bos” jawabku. Segera kubereskan berkas-berkas yang nantinya akan kami pakai sebagai bahan presentasi dengan calon klien. Profil perusahaan, produk investasi, system investasi, dan izin dari BAPEBTI (Badan Pengawasan Perdagangan Berjangka Indonesia) sudah lengkap semua. Ok kalau begitu! Saatnya bertemu calon klien.
“Mana orangnya Rus, sudah 1 jam kita menunggu disini tidak ada satupun pria dengan jas biru dan dasi biru bergaris yang datang menghampiri kita. Coba kamu kontak ke HPnya” perintah bos padaku.
Kemudian kuambil HPku, kucari nomor Mr Choi di phone book HPku. “Gawat, enggak ada bos, kayaknya belum kumasukan ke phone book HPku” kataku sambil kugaruk-garuk kepalaku.
“ Kamu ini gimana si Rus, masyah nomor HP klien enggak kamu simpan di HPmu. Kamu ini ceroboh sekali. Lihat! Sudah 1 jam kita sia-sia disini. Sudah nanti kamu cari lagi nomernya, kemudian buat janji lagi. Sekarang saya mau ketemu klien saya dulu di Plaza Senayan, kamu balik kekantor naik bus way sana !” Bentak bosku dengan alis sedikit terangkat dan dengan tatapan penuh kemarahan padaku, kemudian pergi kekasir untuk membayar tagihan minuman, lalu pergi meninggalkanku seorang diri.
Begitulah bos kalau sudah marah pada orang lain, tidak pandang bulu dan tempat. Bos..bos, apa dia enggak tahu kalau begitu susahnya mencari klien, mencari orang yang mau menginvestasikan uang sebesar 100 juta saja sudah susah, apalagi membuat klien tersebut mempercayai kita kalau uang yang diinvestasikannya akan aman dan tidak akan mengalami kerugian.
Pusing..pusing, kugaruk-garuk kepalaku kembali sambil kulangkahkan kakiku kearah halte bus way koridor Blok M-Kota.
Tiba-tiba “ copet..copet..” teriak ibu-ibu berpakaian motif bunga-bunga sambil menunjuk kearah pemuda berkaos hitam yang sedang berlari kearahku, dengan tas kecil berwarna hitam ditangannya.
Lalu kujulurkan kakiku untuk menghadang laju pencopet yang sedang berlari kearahku. “Brukk” pencopet itu terjatuh dan tas kecil berwarna hitam itu terlepas darinya. Segera saja kuambil tas tersebut, lalu segera bersiap-siap menghadapi perkelahian dengan pencopet yang terjatuh tersebut. Tetapi pencopet itu tidak menghampiriku, melainkan segera lari menjauhi tempatku berada. Ah, biarlah, tidak usah kukejar, lagipula aku sudah berhasil mendapatkan kembali tas yang dicopetnya. Tapi aku heran! Kenapa orang-orang disekitarku tidak ada yang bereaksi yah? Ah, dasar kaum urban. Kaum yang sudah berkurang rasa kemanusiaannya, masyarakat modern yang individualis.
Kemudian kutuju halte bus way tempat ibu-ibu yang kecopetan tadi berada. “mana yah, kok enggak ada?” tanyaku dalam hati.
“ Pak lihat ibu yang memakai pakaian bermotif bunga-bunga enggak pak?” tanyaku pada petugas halte bus way.
“ Enggak lihat” jawabnya.
“ Benar bapak enggak lihat ibu yang kecopetan tadi ?. Saya mau mengembalikan tasnya yang berwarna hitam ini “ tanyaku kembali sambil menunjukan tas hitam milik ibu tersebut.
“ Sudah saya bilang saya enggak lihat, mendingan anda periksa tas tersebut, apa ada nama dan alamat ibu tersebut, kalau ada? Anda balikin saja tas itu kelamatnya atau anda serahkan saja tas itu kekantor polisi, biar polisi yang urus. Itu kan sudah menjadi tugas mereka” jawab petugas itu dengan ketus.
“ Pak..pak.., saya kan nanya baik-baik, kok jadi sewot gitu” gerutuku dalam hati. Memang kalau mau nolong orang jangan tanggung-tanggung, aku terpaksa harus mengantar tas ini ke empunya. Di KTPnya tertulis “ Sulastri, jalan Pasar Baru..”. Tapi besok saja kukembalikan tas ini. Aku harus segera kembali kekantor, nanti bosku marah kalau aku tidak segera kembali kekantor.
“Tiketnya satu mbak” pesenku pada petugas loket bus way. Tidak lama kemudian kunaiki bus transjakarta bewarna merah orange yang ternyata sudah penuh sesak oleh penumpang dari Blok M. tidak apalah, kantorku yang terletak di jalan Thamrin tidak jauh dari sini kok.
“ Aku pulang” sapaku kepada seluruh penghuni rumah berdinding hijau ini.
“Sudah pulang pa” permepuan berkulit putih dengan lesung pipit dan selembar senyuman menyapaku.
“ Iyah ma! Capek nih seharian kerja, mana belum dapat-dapat klien lagi, alamat bulan ini enggak dapat komisi deh” kataku pada istriku.
“ Sabar yah pa, nanti pasti papa dapat klien. Capek yah? Mau mama pijitin gak?” dengan sabar istriku berbicara padaku.
“ Yah jelas mau lah, apalagi kalau yang mijit mama, pasti capeku langsung hilang. Kita langsung kekamar aja yuk mah! Papa sudah enggak sabar nih dipijit sama tangan mama yang terampil itu” ajaku pada istriku tercinta.
“ Ah, papa bisa saja” istriku tersipu malu.
“ Ma, tahu enggak? Tadi aku berhasil mengejar pencopet yang lari membawa tas ibu-ibu yang dirampasnya” ceritaku pada istriku samabil menikmati pijatan lembut istriku.
“ bener pak?”
“ Iyah ma! Aku berhasil merebut kembali tas yang dicuri pencopet tersebut. Tapi pencopet tersebut kubiarkan lari terbirit-birit. Tapi anehnya ketika aku ingin mengembalikan tas itu, ibu-ibu tersebut sudah menghilang entah kemana dan tidak ada satu orang pun yang tahu kearah mana ibu-ibu itu pergi”
“ Terus tas itu papa kemanakan?” Tanya istriku kembali dengan penuh antusias.
“ Itu aku bawa pulang! Rencananya besok mau aku kembalikan kerumahnya langsung” ceritaku kembali.
“Mana pa? perasaan papa pulang enggak bawa tas yang seperti papa ceritain tadi”
“ oh iyah, mana yah tasnya? Apa ketinggalan di kantor?” kulirik sekeliling kamarku, mencari tas kecil berwarna hitam berada. “Nihil”
“Yah sudah, besok papa kembalikan tas tersebut. Sekarang papa tunjukan dong kehebatan papa di tempat tidur ke mama” istriku merayuku dan menggodaku dengan tatapan penuh gairah. Ah, tidak hanya bibirnya saja yang merayu, tetapi tangannya yang usil mulai meraba-raba daerah sekitar kemaluanku, membuat Mr P mengalami ereksi.
“ Don’t worry ma! Akan kubuat kau terbang melayang kenirwana hingga kau tak ingin kembali ke bumi.” Lalu kugumuli istriku yang sudah dalam posisi siap kuterjang. Hingga akhirnya badan ini terkulai lemas tak berdaya ketika semua energi keluar dari tubuh yang telah basah oleh keringat. Akhirnya dengan penuh kemenangan aku pun tertidur lelap.
“ Rus, bangun. Sudah jam delapan pagi “ teriak seorang perempuan renta membangunkanku.
“Jam berapa ini” kukucek-kucek mataku. “ Gawat aku kesiangan. Kenapa istriku enggak membangunkanku yah?” tanyaku dalam hati.
“ Rita mana bu?” aku bertanya pada ibuku.
“ Rita siapa Rus?”
“ Istriku bu, kemana dia bu? Kok dia enggak membangunkan aku yah” kataku sembari menyeruput secangkir kopi hangat. “ Ah.. nikmat”
“ Bicaramu kok ngawur Rus? Wong kamu belum punya istri. Kamu ini masih kuliah. Kamu ini mahasiswa tingkat tiga di fakultas ilmu komputer. Kamu pasti masih setengah sadar? Masih ngimpi” dengan penuh keheranan ibuku berbicara padaku.
“ Ibu ini aneh, Rustam kan sudah beristri. Rita nama istriku! Dan aku sudah bekerja diperusahaan berjangka, aku bukan mahasiswa lagi” aku protes pada ibuku.
“ Kamu ini ngopo toh nduk? Kok kamu jadi enggak waras begitu, eling nduk, enggak usah mikir yang aneh-aneh dulu, pikir kuliahmu dulu, kalau kuliahmu wes rampung baru kamu mulai mikrin cari kerja dan cari istri. Wis toh, mendingan kamu mandi! Supaya badan dan pikranmu segar kembali. Ibu mau beli nasi uduk di warung dulu” Sambil menggeleng-gelengkan kepala ibuku pergi meninggalkanku.
Sepeninggal ibuku kubaca koran harian pagi yang tergeletak di meja makan. Kubaca headline koran harian tersebut “ Proyek bus transjakarta koridor blok M-kota terancam tidak jadi diresmikan awal bulan ini, karena pembangunan halte di sejumlah titik masih banyak yang belum selesai. Diperkirakan bus way baru bisa diresmikan bulan depan, namun dampaknya sudah bisa kita rasakan sekarang, yakni kemacetan akibat penyempitan beberapa ruas jalan..”
Oh, tidak! Jadi semua yang telah kualami selama ini tidak nyata? Istriku tidak nyata, pekerjaanku tidak nyata atau jangan-jangan ibuku yang berbicara denganku tadi juga tidak nyata.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s