KOMPUTERKU HILANG (1)

Posted on

“Pusing! Pusing!”
“Payah, gak tahu apa aku udah seminggu ini ngelembur menyelesaikan naskah ini. Eh..malah dicoret-coret gini. Kurang ini lah, kurang itulah, Harus inilah, Harus itulah, Mana susah ditemui lagi. Dasar Dosen tua, gak mau pernah kompromi dengan mahasiswa, maunya menang sendiri, mungkin karena gelar profesor yang disandangnya sehingga Pak bardi dosenku ini harus ketok berwibawa”
“ehm.. udah jam 11, harus cepat-cepat mandi nih. Maklum!anak kost, takut antri, apalagi kan hari Jum’at”

Aku adalah mahasiswa tingkat 5 di fakultas MIPA UGM. Yah beginilah nasib mahasiswa tingkat akhir, harus cepat-cepat hengkang dari bangku kuliah, udah tua, malu dengan mahasiwa baru. Makanya sekarang ini aku lagi sibuk menyelesaikan naskah skripsiku. Udah beberapa hari ini tiap malam aku nongkrong didepan komputerku, menyusun naskah skripsiku yang gak akan pernah sempurna bila udah berada ditangan dosenku. Padahal kan lagi liburan semester, harusnya aku lagi berada dirumahku di Bandung. Disini aku kost, di daerah pogung, daerah yang sudah padat dengan warga pendatang. Untungnya walaupun kamar kostku terpisah dengan induk semang, kost-kostku masih ada induk semangnya, jadinya gak bebas-bebas amat. Oh iya, namaku sendiri Asep, M asep lengkapnya, jejaka Parihiyangan.

“loh kok masih gitaran, ayo ke masjid! Sapa ku kepada andre, sambil menutup pintu depan kost-kostanku.
“Duluan deh mas, kulo telat mawon, salam yah buat khotibnya” tak peduli dengan ajakanku ia meneruskan bermain gitar. “…Selamat malam duhai kekasih..”

Bagus juga sih suaranya, harusnya dia ikut KDI yang lagi ngetop itu, kan lumayan bisa mejeng dan terkenal. Ah… Tapi Dasar andre ! anak bapak kost yang kerjaanya ngelayap terus, sukanya malas-malasan, padahal udah mahasiswa, walapun masih tergolong baru, tapi kan paling enggak dia sudah harus bersikap dewasa, bahwa yang dia kerjakan selama ini gak ada gunanya; merokok, minum-minum, ikut balapan dijalan dan lainnya yang sifatnya foya-foya. Dasar anak muda Zaman sekarang! Gimana bangsa ini mau maju.

“yah udah! Duluan yah ndre”
***

Langkahku begitu cepat meninggalkan Masjid Pogung Raya, melewati jama’ah sholat Jum’at yang juga mulai membubarkan diri. Gak tahu nih kenapa tiba-tiba ingin cepat-cepat sampai kost. Ehhh… jangan ngeres dulu, bukan karena ingin kebelakang loh. Entah.. suara hatiku mengatakan aku harus cepat pulang. Dicatat lagi, suara hati… bukan suara perut. Ah ! kayak lagunya Marcell aja. Kemudian kulangkahkan kakiku lebih cepat lagi menyusuri gang-gang sempit di kampung pogung dalangan ini.

“ Sep..Asep” teriak seseorang memanggilku dari belakang. Lalu Dijabatnya tanganku sambil tidak lupa megucapkan salam kepadaku.
“Hai ndra ! sapaku
“Jalanmu cepat sekali sep, kayak habis dikejar-kejar anjing aja. Perasaan dijalan gak ada anjing lewat, kebelet yah ?”
“mau belajar seperti orang jepang, membiasakan berjalan cepat. Soalnya kalau gak cepat-cepat kita bisa gak kedapatan rezeki ndra”
“Bukan gak kedapatan rezeki sep, tapi takut keduluan ke kamar mandi kan. Oh iya, gimana skrispsimu. Wis rampung durung ! buruan diselesaikan lah , ingat umur tuh”
“Iya..iya, macam neneku aja kamu ndra, cerewet sekali kau. Tahu gak? Orang-orang dulu yang sekarang jadi orang besar, dulunya kuliah 7 sampai 10 tahun. Biar matang ilmunya”
“Kematangan jadi bosok sep. Aku main kekostmu yah, kangen nih ama kasurmu”
“Huuh ! yah udah buruan deh, jangan kayak putri solo gitu donk jalannya”

Aku kembali mempercepat langkahku menuju ke kost. Kostku sendiri, jaraknya tidak begitu jauh dari masjid tempatku sholat. Sehingga dalam waktu 4 menit kemudian, aku sudah sampai didepan kostku. Kost-kostan yang diisi 6 orang ini, Terlihat sepi. Mungkin belum pada pulang dari jum’atan, pikirku.

“Krek” kubuka pintu kamarku yang sudah tua ini dengan sedikit paksaan.
“Astaghfirullah”tersentak aku melihat isi kamarku, sambil kupegang kepalaku yang mulai terasa agak pusing. Keringat dingin pun mulai membasahi keningku.
“Kenapa Sep? kayak orang baru melihat setan aja”
“CPU dan printerku gak ada ndra. Hilang !”
“Masa sih !mana..mana?. Benar sep gak ada, letaknya di sinikan”sambil menunjuk meja komputerku yang terletak didekat jendela kamar.”Dipinjam temanmu paling?”
“Gak kok ndra ! Tadi sebelum Jum’atan masih ada kok. Kemana yah ndra?kalau hilang bisa gawat nih, Skripsiku bisa kacau, dataku di situ semua. Bisa-bisa aku mengulang satu tahun peneltianku lagi” kuacak-acak rambutku, sambil membongkar-bongkar isi kamarku untuk mencari-cari CPU dan printerku, walaupun mustahil ada, kuteruskan membongkar-bongkar isi kamarku.
“Tenang sep… Tenang dulu. Ingat-ingat dulu kejadianya. Tadi kamarmu kamu kunci gak?jangan-jangan kamarmu tadi lupa kamu kunci”.
“betul ndra ! Tadi aku lupa menguncinya”
“wah Sep, lain kali hati-hati sep!inikan hari jum’at, orang kan pada jum’atan semua. Jadwalnya maling pada beroperasi”
“terus gimana dong ndra, nasib data skripsiku gimana?”

Keduanya pun terjebak dalam kebingungan. Keheningan melanda keduanya, menambah sepinya keadaan kost-kostan tersebut yang sudah sepi ditinggal penghuninya. Asep terlihat lesuh tak bertenaga, keringat membasahi sekujur tubuhnya. Endra terlihat sedang berfikir keras, berusaha mencari kemungkinan-kemungkinan tentang keberadaan komputernya Asep.

“Krek”. Terdengar suara pintu dibuka, dikiuti suara langkah kaki manusia
“Assalamu’alaikum. Loh kok gak dijawab sih. Lah si endra ngapain juga disini, tumben-tumben amat nih anak main ke sini” sambil berbicara orang tersebut memasuki kamar Asep yang terasa sesak itu.
“Walaikum salam. Komputernya Asep hilang rud” jawab endra malas-malasan.
“Jangan bercanda kamu RUD. Benar komputermu hilang sep? kapan? Udah lapor bu kost belum?serius rudy menanggapi permasalahan yang terjadi.
“Iyah Rud. Komputerku hilang, CPU dan printer. Baru aja kayaknya. Belum..aku belum lapor ibu kost” dengan lesuh Asep menjawab pertanyaan rudy teman kostnya, walaupun iya sebenarnya malas untuk berbicara banyak.
“wah..wah! kurang ajar nih malingnya, mahasiswa kok dikerjain juga, pasti orang dalam pelakunya Sep. Kalau gini sih perlu dikasih pelajaran tuh maling” Terlihat rudy agak emosional, sambil dipukul-pukulnya telapak tangan kirinya dengan tangan kanannya.
“Aku gak peduli siapa malingnya rud. Aku hanya ingin data skripsiku kembali. Itu aja” Terlihat asep sengit menanggapi, sambil direbahkan tubuhnya ke kasur. Rudy yang dari tadi kelihatan emosional, terlihat sedang memikirkan sesuatau, sambil diliriknya asep sesekali,
“ehm.. gini Sep. Kalau kamu ingin tahu yang maling komputermu dan komputermu kembali, aku tahu orang pintar yang hebat. Soalnya dulu aku juga pernah nemenin temenku yang kehilangan Hpnya. Dan tahu gak, habis dari sana tuh Hpnya udah balik lagi kemeja belajarnya. Hebatkan sep. Mbah Harjo namanya sep”
“wah jangan sep” sela endra ditengah-tengah pembicaraan yang sudah mulai serius itu, sambil mendekati keduanya.”Jangan sep, dosa. Apalagi aku dengar, kalau minta tolong ke mbah Harjo, pencurinya bisa sampai mati sep. Jangan deh” cegah endra kepada asep.
“Tapi komputerku bisa kembali kan Rud ? nanti malam antarkan aku yah Rud”. Jawab asep dengan tidak mempedulikan perkataan Endra.
Bersambung ……

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s