GADIS LOKOMOTIF

Posted on

Adagio Sostenuto, semua ini begitu aneh dan indah, bagiku terasa aneh seorang gadis seorang diri menggunakan jasa lokomotif ekonomi jurusan jakarta-jogja yang penuh sesak ini. Namun semuanya menjjadi terasa indah ketika kau menegurku dan bertanya padaku. “ ini gerbong 4 yah mas”.
“Yah benar, bangku nomor berapa mbak”
“nomor 8E, disamping mas” kemudian dia duduk disebelahku, setelah menaruh tas cariernya di bagasi atas.
“Mau duduk didekat jendela mbak? tukeran dengan tempat duduk saya, biar nanti enggak dicolek-colek pengamen atau orang jualan” tawarku padanya.
“boleh, makasih yah” kemudian kami berganti tempat duduk. Aku pindah ketempat duduknya didekat tengah-tengah orang biasa lalu-lalang. Diapun pindah ketempat duduku, dekat dengan jendela.


Memang terasa aneh bagiku melihat seorang gadis dengan kulit wajah yang halus, putih bersih, dengan tanpa satupun kerutan di wajah, kelihatan sekali wajah itu begitu terawat. Mungkin umur gadis ini tidak jauh dari umurku, 20 tahun.
“ Ke jogja mbak?” tanyaku padanya, masih dengan tatapan penuh keheranan.
“Iyah” dengan singkat dia menjawab, tanpa menolehkan muka kearahku, pandanganya tetap ke arah luar jendela. Entah apa yang sedang diperhatikanya. Mungkin juga dia sedikit berhati-hati terhadapku. Karena memang sepatutnya kita berhati-hati ketika menaiki lokomotif ekonomi yang selalu penuh dengan tangan-tangan jahil yang ingin merampas hak milik orang lain. Apalagi bagi seorang gadis muda, butuh keberanian yang tinggi untuk menaiki lokomotif seorang diri.
Memakai jasa lokomotif ekonomi jangan mengharapkan kita akan mendapatkan kenyamanan seperti ketika kita menggunakan jasa lokomotif Bisnis dan Eksekutif, Perbedaan harga tiket yang begitu jauh menyebabkan perbedaan pelayanan yang juga cukup jauh. Jangan kan rasa nyaman, rasa amanpun terkadang tidak akan pernah kita dapatkan. Jangan kaget ketika tiba-tiba kita mendengar seorang wanita berteriak dan menangis ketika dia baru menyadari tasnya yang berisi uang telah hilang diambil orang.
Aku juga pernah mengalami, kuralat bukan mengalami, tetapi menjadi saksi ketika kalung perhiasan ibu-ibu yang duduk didepanku disamber dari luar kaca jendela lokomotif. Kejadian itu terjadi begitu cepat ketika kereta melewati daerah Bumiayu. Bajing lompat yang mungkin sudah mengawasi perhiasan ibu tersebut sebelumnya, menyamber perhiasan ibu tersebut dari luar jendela. Padahal kereta itu tidak sedang berhenti, tetapi masih dalam kondisi bergerak cepat. Entah bagaimana perasaan bajing lompat tersebut, apakah tidak terbayang kengerian yang akan didapatnya apabaila ia terjatuh dari atap lokomotif. Ah..memang orang zaman sekarang sudah nekat, ditengah himpitan ekonomi, pekerjaan sesulit apapun asal menghasilkan uang pasti akan mereka lakukan.
“Di Jogja kuliah atau main?” tanyaku kembali pada gadis disebelahku.
“kuliah” jawabnya, masih dengan singkat.
“kuliah dimana?”
“Di Biologi” kali ini dia mulai membuka diri padaku, untuk sekedar ngobrol denganku.
Dari pembicaraan singkat, akhirnya kami mulai membicarakan banyak hal. Kami larut dalam sebuah diskusi yang mengasyikan, mencoba mempersingkat waktu perjalanan dengan pembicaraan ngalor-ngidul.
Mengetahui ia mahasiswa biologi, aku lalu menanyakan pandangannya mengenai teori evolusi Darwin, khususnya mengenai teori asal-usul penciptaan manusia. Teori ini banyak mendapatkan pertentangan dari para pemeluk agama manapun, terutama agama Islam dan Kristen. Pasti menarik membicarakan teori evolusi dengan mahasiswa biologi yang tentunya mendapat pelajaran evolusi dalam kuliahnya.
Menurutnya kita harus menentukan terlebih dahulu sudut pandang yang akan kita ambil. Kalau kita memandang dari sudut pandang agama, maka kita harus meyakini kalau nenek moyang manusia buka berasal dari kera, melainkan berasal dari Nabi Adam yang diturunkan ke bumi karena melanggar larangan Tuhan. Kebenaran yang berasal dari pemikiran agama adalah kebenaran yang absolute, karena berasal dari wahyu Tuhan.
Sedangkan kalau kita memandang teori evolusi dari sudut pandang ilmu pengetahuan, maka kebenarannya tidak bersifat absolute. Selama belum ada yang membuktikan secara empiric bahwa nenek moyang manusia bukan berasal dari kera, maka kita harus menerima teori tersebut, sambil mencoba membuktikan kebenaran teori tersebut.
Menurtnya teori evolusi, terutama masalah penciptaan manusia harus dianggap sebagai suatu proses gradual, bukan sebagai akhir atau hasil. Menurutnya teori evolusi manusia masih berlangsung dan kemungkinan manusia berevolusi menjadi bentuk yang lebih kompleks, masih mungkin terjadi.
Aku sempat menyanggahnya, kalau belum ada teori yang membantah teori evolusi Darwin. Harun Yahya, dimana buku dan CDnya telah banyak beredar di Indonesia, telah menolak kalau sebenarnya nenek-moyang manusia berasal dari kera. Harun Yahya juga menyertainya dengan bukti-bukti, diantaranya fosil tengkorak manusia purba yang merupakan rantai penghubung sebenarnya hanya hasil rekayasa dari para pengikut evolusionis, sebenarnya itu hanya fosil tengkorak babi.
Tapi menurutnya, Harun Yahya sebenarnya bukan seorang ilmuwan, dia hanya mengambil potongan-potongan teori Darwin untuk dibuktikan kesalahannya. Dan pembuktikannya tidak secara empirik.
Tetapi dia mengakui kalau masih ada kekurangan dalam teori evolusi Darwin. Darwin menyebutkan bahwa proses evolusi terjadi melalui lompatan-lompatan generasi, bahwa semua kehidupan berasal dari laut, dari sup purba yang berkembang menjadi ikan, lalu ikan berevolusi menjadi reptile, kemudian reptile berevolusi menjadi burung dan berbagai bentuk kehidupan didarat,
Memang telah ditemukan fosil perantara dari reptile keburung, yakni fosil burung yang memiliki cakar. Tapi sampai sekarang masih belum diketemukan fosil perantara dari ikan menjadi reptile atau mamalia darat. Inilah yang dinamakan missing link atau rantai yang hilang. Selama fosil ini belum ditemukan, maka teori evolusi belum sepenuhnya terbukti benar. Proses evolusi juga tidak terjadi secara tiba-tiba yang seperti Darwin kemukakan, tetapi proses evolusi terjadi secara gradual atau bertahap.
Begitulah dari hanya sekedar menanyakan tujuan. Kami akhirnya terlibat dalam pembicaraan yang serius. Kami pun hanya memotong pembicaraan kami apabila ada pengamen yang ingin menghibur kami, walaupun sebenarnya kami tidak terhibur, melainkan kami malah terganggu oleh suara-suara sumbang mereka dan oleh tangan mereka yang dengan paksa menodong kami untuk memberikan sekeping rupiah.
Terkadang bapak-bapak yang duduk didepan kami ikut bergabung dalam pembicaraan kami, walaupun akhirnya ia terlelap dengan cepat karena jenuh mendengarkan pembicaraan kami yang terlalu serius.
Malam akhirnya berganti pagi. Sinar surya mulai memasuki ruang-ruang lokomotif melalui jendela-jendela tak bertirai, membangunkan para penumpang yang terlelap. Udara panas Jakarta digantikan oleh hawa sejuk perdesaan yang membuat kami harus mengenakan jaket.
Dan akhirnya kami tiba di stasiun kereta api lempuyangan, Yogyakarta. Kami tiba jam 10.00, molor 2 jam dari seharusnya. Sesuatu yang lumrah apabila menggunakan jasa kereta api kelas ekonomi. Lokomotif ini begitu toleran kepada lokomotif lain, terutama dengan lokomotif kelas eksekutif dan bisnis. Ia harus rela bila harus didahului kereta api tersebut, sehingga perjalanannya menjadi terlambat.
“Aku duluan Yah” Ia pun beranjak dari tempat duduknya, kemudian menyusul beberapa rombongan penumpang yang juga segera ingin meninggalkan lokomotif ini.
Gadis yang menarik, apakah mungkin kita akan bertemu kembali untuk sekedar berbincang-bincang di sore hari atau mendiskusikan berita pagi sambil menikmati semangkuk bubur kacang hijau di warung Burjo.
Ups..aku lupa menanyakan namanya, alamat dan nomor teleponya. Segera saja kucari dia. Tapi rupanya dia segera menghilang dari stasiun, mungkin sudah ada keluarga yang jemput. Ah.. biarlah, apalah arti sebuah nama dan biarlah takdir yang mempertemukan kita kembali.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s