PUZZLE HEART

Posted on Updated on

“ oh..oh sobat maafkan aku mencintainya, aku tak bermaksud membuatmu tak berarti…” Gila keren habis si Fadli nyanyinya, kok bisa ya ! Suaranya sebagus itu, tanyaku dalam hati. “Lagi..Lagi” teriak penonton yang memadati konser Grup band Padi di area Parkir Timur Senayan. Aku harus bisa seperti mereka, pokoknya grup bandku harus bisa terkenal seperti mereka.

“Gila Di! Bagus banget mainnya. Kita harus bisa seperti mereka ” kataku kepada Adi yang dari tadi sibuk berjingkrak-jingkrak menikmati alunan musik Padi. “Bener Wan. Sampai aku ikut terhanyut mendengar lagunya. Wuih…Padi!! I love you!” Teriak Adi teman satu kelasku di SMA.

 

          “Huuh.. Capai banget” kutarik nafasku tuk menghilangkan sedikit rasa capai akibat berjingkrak-jingkrak mengikuti irama musik. “Di, Aku cari minum dulu ya” Kutinggalkan Adi ditengah-tengah kerumunan penonton yang begitu ramenya. “Huu..” keluar juga akhirnya dari kerumunan penonton yang semuanya pelajar. “Spritenya mas!” pintaku kepada penjual soft drink tersebut.

 

          Baru aja aku ingin menenggak minumanku.“Bagi ya” direbutnya gelas yang berisi minuman dari tanganku. Sampai aku terbengong-bengong melihat ulahnya tersebut.”Wah Ta. Jangan dihabisin donk, aku juga haus nih” komentarku kepada Tita yang juga teman sekelasku. ”Eitt..Dapat. Ohh..nikmatnya. Enak banget,beli dimana nih” Diserobotnya minuman itu dari Tita. ”Enak..enak. Enggak tau apa yang punya lagi haus. Udah diserobot Tita. Pakai diseobot kamu segala Ton. Pokoknya kalian harus ganti” dengan dongkol kumaki mereka. “Iya..iya, jangan cemberut gitu donk Wan” ucap Tita kepadaku. ”Kubelikan sembari balik deh”.

 

          “Brag” kulemparkan tasku kekasur. Kubuka isi tasku dengan tergesa-gesa. Nah, ini dia kasetnya. Kuraih Walkman yang berada diatas meja belajarku. “..Hamparan langit maha sempurna, kutatap bintang-bintang angkasa…” Padi memang hebat, bisa buat lagu yang enak didengar begini. Mana liriknya romatis banget, pasti cewek-cewek semaput nih kalau dengerin lagu ini. Ah..Coba ah, kumainin pakai gitar. Kuraih gitar satu-satunya kepunyaanku. Kayaknya mainya dari kunci C deh. Betul kan dari C. Kalau dari C biasanya lari ke F terus Am, lalu G. Yes! ketemu juga akhirnya. Ehm..bisa buat latihan ngeband besok sore nih.

 

          “Tok..Tok. Wan ada si Tita Tuh” kaget aku mendengar suara pintu kamarku diketuk. Uh..ganggu aja nih, padahal lagi asyik nih. Ngapain juga si Tita datang kesini. Paling-paling mau pinjam kaset lagi. Dasar tuh anak, Vokalis kok enggak pernah mau modal beli kaset terbaru. Padahal yang namanya vokalis dituntut untuk menguasai suatu lagu dengan baik, baik itu lirik dan nadanya.  Ah..Ganggu aja. Kulangkahkan kakiku meninggalkan kamarku sambil menenteng gitarku. Kemana tuh anak, kok enggak ada sih. Kucari-kucari Tita disekitar halaman rumahku.

 

“Dor” dari belakang Tita muncul mengagetkanku.

“Aduh Tita, pakai ngagetin segala lagi. Untung aja aku gak jantungan. Lagian kok kamu muncul dari belakang sih” berondongku kepada Tita, sambil kujitak kepalanya. Habis jahil sih.

 

“Dari kamar mandi. Terus ngelihat kamu celingak-celinguk gitu. Yah sekalian aja tak kagetin. Wan mainin donk gitarnya, jangan ditenteng aja.” Ucap Tita sambil berjalan menuju ayunan di perkarangan halaman rumahku. Ku ikuti langkah kakiku mengikutinya menuju ayunan. Kemudian kita duduk berdua di Ayunan tersebut. “Ta, aku ada lagu baru buat dimainin. Besok kita mainkan pas latihan ngeband ya” kataku kepada Tita yang dari tadi sibuk bergumam. “Lagu apa sih, coba dimainkan, aku pengen dengar ”Tanya Tita dengan penasaran. Kemudian kupetik gitarku pada nada dasar C. (Pasti udah tahukan lagunya apa).

 

“Hamparan langit maha sempurna..” kunyanyikan lagu mahadewinya padi dengan suara sedikit sumbang, Maklum, bukan vokalis. Backing vokalpun kayaknya juga enggak layak. Dengan kondisi yang sudah terbawa perasaan oleh lagu ini, kuteruskan memetik gitarku.

 

“..Alam rayapun semua tersenyum..” si Tita mulai ikut bernyanyi mengikuti alunan musik gitarku. Wah ternyata si Tita ngerti juga lagu ini. Kuhentikan nyanyianku, kubiarkan Tita menyanyikan lagu ini dengan iringan suara gitarku. Kuakui suara si Tita memang Ok. Lagu ini terasa merdu ketika dinyanyikannya, membuat hati ini ingin terbang melayang-layang diangkasa. Sambil kupetik gitarku, kupandangi wajah Tita yang penuh ekspresi. Ternyata Tita Cantik juga. Kenapa ya aku baru menyadarinya sekarang. Apa karena selama ini aku terlalu dekat dengan Tita sehingga aku enggak bisa melihat kecantikan dirinya.  Sejak kecil kita selalu berada dalam satu sekolah, sehingga kami kemana-mana selalu bersama, hingga akhirnya kami mendirikan Grup Band ini. Ternyata selama ini aku salah mengartikan kedekatanku kepadanya. Ternyata kami buka sekedar teman dekat, ternyata aku menyukainya selama ini. Sehingga aku ingin bersama-samanya selalu. Tapi aku terlalu berkhayal untuk mendapatkanya. Tita adalah idolanya cowok-cowok di SMA ku. Tita cantik, suaranya bagus, pintar dan anak orang kaya lagi. Sedangkan aku hanya cowok biasa yang pas-pasan. Lagipula selama ini kami cocok sebagai teman. Bisa bersama dengannya saja aku sudah bahagia.

 

          “Lo kok berhenti sih main gitarnya, mikirin apa sih.” Tegur Tita kepadaku. ”Sory, aku agak lupa sih” jawabku, berusaha mengelak dari lamunanku. “Oh..ya. Sebenarnya kamu ketempatku mau ngapain Ta?” tanyaku kepada Tita. ”Oh iya jadi lupa deh. Aku kan mau minta kamu nemenin aku beli kasetnya Padi. Mau kan wan?” Rajuk Tita kepadaku, sambil menarik-narik tanganku. ”Iya..iya. Tapi aku mandi dulu ya” segera kutinggalkan Tita  dari ayunan, untuk buru-buru mandi.

 

          “Ada Kaset Padi Mbak?” tanya Tita kepada penjaga toko kaset Disc Tara. “Maaf mbak, Kasetnya sudah habis terjual” Jawab mbaknya dengan halus. Gila bener kemunculan grup band ini. Kasetnya sampai habis terjual semua, kayak jual kacang goreng aja. Kudengar dari radio aja, katanya sudah terjual lebih dari 750.000 keping. Angka penjualan yang fantastic ditengah-tengah krisis moneter yang melanda bangsa Indonesia. Aku aja gara-gara krismon, uang jajanku sampai dipotong. Untung sebelumnya aku suka menyisakan sebagian uangku untuk ditabung. Makanya begitu kaset Padi dilaunching aku bisa langsung membelinya. Jadi sempat kebagian deh.

 

          ”Udahlah gak usah manyun gitu. Kita cari ditempat lain aja yuk!” ajaku kepada Tita, yang kulihat dari tadi tampangnya manyun aja. Sepertinya dia kesal tidak bisa mendapatkan kaset Padi tersebut. Mana kita  seharian ini  udah muter-muter Jakarta. Tahu kan Jakarta seperti apa. Puanass banget!! Dan  kayaknya tenggorokanku sudah terasa kering.  

 

          Pertokoan di Blok M sudah kami puterin semua. Tapi hasilnya tetep nihil. Semua toko kaset mengatakan bahwa kaset Padi sudah terjual habis, membuat Tita semakin dongkol mendengarnya. Langkah kakinya sudah terlihat gontai. Kasihan juga nih anak, sudah seharian nyari belum dapet-dapet juga. “Mendingan kita cari minum dulu Ta” ajaku kepadanya, sambil kutarik tangannya. Soalnya aku melihat dia sudah kelihatan haus, sama seperti aku. “Ayolah Ta, Habis itu kita cari lagi deh. Terserah mau kamu ajak aku kemana, aku pasti temenin” bujuku kepada Tita Yang dari tadi hanya bengong aja, mungkin ada yang dipikirkannya.

 

          “Ha.. segernya” kutenggak teh botol yang kupesan. Kulihat Tita sedang melamun memikirkan sesuatu, dimainkannya sedotan dibotol minumannya tersebut. Ia masih kelihatan manis, walaupun keringat dan debu menempel diwajahnya yang sudah seharian ini terus diterpa panas. Aku beruntung bisa selalu bersama-sama dengannya. Selama ini aku selalu dijadikan teman berpergiannya. Orang yang melihat kita pasti mengira kita sepasang kekasih. Habis kemana-mana kita selalu berdua sih, seperti sepasang merpati yang selalu terbang bersama mengarungi angkasa. Ah menghayal aja, kataku dalam hati. Tapi aneh juga ya. Kenapa Tita sampai sekarang enggak punya cowok. Padahal yang naksir sama Tita kan banyak. Apa dia terlalu pilih-pilih dan hati-hati, kepada setiap cowok yang mendekatinya. Dan aku sebagai teman yang paling dekat dengannya enggak pernah tahu siapa orang yang disukainya.

 

          “Ta, kami bener-bener masih kepengen nyari kasetnya Padi” tanyaku kepada tita, untuk memecah kebisuan diantara kita berdua. “Iya Wan. Aku suka sekali dengan lagu-lagunya Padi. Musiknya enak didengar ditelinga, Apalagi liriknya, dalam banget kata-katanya. Terutama lagunya Padi yang Mahadewi, aku paling suka dengan lagu itu, menyanjung wanita banget. Apakah aku bisa menjadi Mahadewinya ya?” cerita Tita panjang lebar kepadaku. “Ayo Mahadewinya siapa” Kuejek Tita dengan hati meringis. Ternyata selama ini ia telah mempunyai bintang pujaan hati. Pupus deh harapanku kepadanya. Tapi siapa ya? Tanyaku dalam hati.

 

“Oh..iya wan. Kamu dapat salam dari Dian anak 2B. Dia naksir kamu tuh” celetuk Tita kepadaku.

“Masa sih si Dian naksir aku. Bercanda kamu Ta. Mana mungkin Dian yang manis itu naksir cowok seperti aku yang pas-pasan ini. Tapi boleh juga, kalau dia mau sama aku. Salamin balik ya” kataku kepada Tita.

         

          Kulihat dia terdiam setelah mendengar perkataanku. Wajahnya ditundukannya memandangi botol minumannya yang dari tadi belum habis dimunumnya. Mikiran apa ya si Tita?, tanyaku dalam hati. Ah, paling juga mikirin cowok idamanannya. Beruntung sekali cowok itu, bisa masuk kedalam relung hatinya Tita. Hingga bisa membuat Tita yang ceria ini melamunkan dirinya. Pasti cowok itu ganteng, kaya dan pinter. “Ta, bener kamu ingin punya kaset Padi” tanyaku kepada Tita yang akhirnya tersadar dari lamunannya. “Daripada kita harus muter-muter lagi. Punyaku buat kamu aja deh. Tapi kamu pelajari lagunya ya ! besok sore kita latihan ngeband pakai lagunya Padi” kataku kepada Tita sambil beranjak meninggalkan tempat kududuk. “Makasih ya” Katanya.

 

          Apakah aku harus menyampaikannya ya? Tanyaku dalam hati sambil kumasukan kembali kertas surat pemberian Adi yang ditiipkan kepadaku. Tadi sore setelah latihan sebelum kami pulang kerumah masing-masing, Adi menitipkanku sepucuk kertas ini kepadaku. Ternyata Adi juga menyukai Tita. Kertas yang dititipkan kepadaku berisikan pernyataan cintanya kepada Tita. “ Wan, aku ingin minta tolong kekamu. Tolong kasihkan surat ini ke Tita. Aku menyukainya Wan” dengan wajah yang tersipu-sipu malu ia menyerahkan surat itu kepadaku tadi sore. Kuterima saja surat itu karena tidak ingin megecewakan Adi temenku. “Tolong ya. Aku mempercayaimu Wan” pintanya padaku. Tapi bisa kah aku dipercaya? Aku juga mencintainya. Apakah aku rela nantinya orang yang kucintai dimiliki oleh orang lain, walaupun itu sahabatku sendiri. Tapi aku juga tak ingin mengkhianati sahabatku. Aku gak ingin nantinya persahabatanku dengan Adi jadi rusak.

 

          “Wan! Ada Tita tuh” kudengar suara ibuku mememanggilku. Gimana ya ? kok aku bingung begini. Kenapa aku begitu picik begini. Si Tita kan punya hak untuk memutuskan ini. Kalaupun dia nantinya menerima Adi, itu sudah menjadi pilihannya. Dan aku harus menghormati keputusannya. Aku enggak punya hak apa-apa disini, aku hanya punya kewajiban. Dan kewajibanku adalah untuk menyerahkan surat ini. Dan kebenaran si Tita datang kemari.

 

          “Hai Ta” Sapaku kepadanya. “Kok tampangmu kusut gitu sih, habis bangun tidur ya. Sory ya ganggu kamu” ucapnya sambil bergaya seperti anak kecil.”eh.. Capai aja.  Oh iya, ada titipan surat dari Adi”. Kuserahkan surat pemberian Adi kepada Tita. Kemudian  diambilnya dengat cepat surat itu, spertinya dia ingin cepat-cepat tahu isi surat itu. Dari wajahnya terlihat ia begitu serius membacanya. Entah apa yang ditulis Adi didalam surat itu, aku sendiri tidak tahu. Tiba-tiba aku begitu tegang menanti ini semua, jantungku berdegup dengan kencang dan aliran nafasku begitu tidak teratur. Apa ya reaksi Tita setelah membaca surat itu? Tanyaku dalam hati.

 

          Akhirnya surat itu selesai dibacanya. Kulihat dia terdiam untuk beberapa saat. “Menurutmu gimana Wan?” Tita kemudian bertanya kepadaku. “Terima aja Ta! Adi orangnya baik kok” kujawab pertanyaanya dengan sedikit rasa tertekan. Kenapa aku berkata seperti ini, kenapa aku enggak menyuruh dia menolaknya, bukankah itu menguntungkanku. “Terima wan” Tanya Tita kpadaku lagi.” Ya kalau kamu suka, terima aja” kembali aku memberinya saran. Aku melihat ia begitu bingung untuk mengambil keputusan, entah apa yang dipikirkannya.  “ Ha.. Aku pulang Wan, makasih ya” pamit Tita, dengan segera ia meninggalkan rumahku tanpa aku bisa berkata apa-apa. Melihatnya pergi dari belakang, seakan mengisyaratkan bahwa aku enggak akan bisa bersama-samanya lagi seperti dulu.

 

          “Teh botolnya Bang” Kataku kepada penjual minuman di kawasan pertokoan Blok M, Jakarta. Kuhisap Teh botolku, sambil memperhatikan orang yang lalu lalang didepanku. Kawasan pertokoan Blok M merupakan kawasan yang rame dikunjungi pembeli. Tempatnya yang luas dan strategis, membuatnya menjadi pilihan utama masyarakat kota untuk berbelanja. Termasuk aku, habis barangnya murah-murah sih. Biasanya aku datang berdua dengan Tita ketempat ini, namun belakangan ini kami lebih banyak pergi sendiri-sendiri. Enggak deh, cuma aku yang pergi sendiri. Maklum sejak si Tita jadian sama si Adi, ia lebih suka menghabiskan waktunya bersama-sama  si Adi. Ya mau diapain lagi. Aku juga enggak ingin menjadi pengganggu hubungan mereka, jadi terpaksanya sekarang aku lebih sering pergi sendiri deh.

 

          Tapi rupanya ada untungnya juga Si Tita jadian sama si Adi, Aku jadi lebih banyak berdiam dirumah. Dan ini membuatku mempunyai waktu lebih banyak untuk belajar, maklum sekarang aku sudah berada dikelas 3 dan sebentar lagi kami akan menghadapi Ujian kelulusan. So aku harus lebih banyak belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian. Apalagi aku bercita-cita untuk masuk ke Fakultas  Kedokteran UGM.

 

          “Puzle…Puzle Heart” teriak seorang penjual, sambil menawari kepada setiap orang yang lewat didepannya. “Puzle Heartnya mas!” ditawarkannya Puzle itu kepadaku. “Kok namanya Puzle heart si bang?” tanyaku kepadanya. Ehm.. penasaran juga aku ingin mengetahui barang apa yang ditawarkannya”. Gini mas. Di Puzle ini mas bebas nulis apapun yang mas suka. Mas bisa nulis kata I love you di Puzle ini. Terus Puzle ini nanti mas acak-acak, lalu mas kasih ke orang yang mas sukai, pasti cewek itu suka deh mas”. Ehm.. fasih sekali abang ini ngomongnya, tapi menarik juga. Akhirnya kubeli juga Puzle heart tersebut dengan sebuah tulisan yang kupesan diatasnya.

 

          “Dor”. Tiba-tiba seseorang mengagetkanku dari lamunanku. “Kamu Ton, bikin kaget aja. Mana main nyelonong kekamar orang lagi” ucapku kepada Anton. “Makannya jangan nelamun aja. Tahu gak? Ayam tetanggaku koit gara-gara kebanyakan bengong dipingir jalan. Apaan nih?” diambilnya puzle yang baru saja kubeli di blok M. Kemudian dilihatnya dengan seksama dengan wajah yang penuh keheranan. “ Ce..ilee..romantis banget teman kita ini. Tapi bener kamu suka sama si Tita? Kok aku enggak pernah tahu sih” tanya Anton kepadaku dengan mimik muka yang serius. Kayaknya aku enggak bisa mengelak deh. Rahasia terbesar hatiku akhirnya harus diketahui oleh orang lain. Ya udahlah kuceritain aja. “Iya ton, sudah lama aku suka sama si Tita” Kataku sambil tertunduk malu. “Terus Tita tahu enggak? Kalau kamu suka sama dia” ditanya balik aku olehnya. “Enggak, aku enggak pernah berani bilang kalau aku suka sama dia. Aku minder ton” ucapku. “ya enggak bisa gitulah Wan, dia harus tahu kalau kamu suka dia. Masalah dia suka kamu apa enggak itu urusan belakangan. Masalah hati tuh jangan ditunda-tunda, kasihan nanti hatimu jadi sekeras batu. Lagian buat apa kamu capai-capai bikin ini, kalau kamu enggak berani kasih ini Puzle ke dia” dengan seru si Anton berbicara kepadaku. Memang benar semua yang dikatakan Anton kepadaku, tapi sekarang kan si Tita sudah jadian sama si Adi. “ Terus gimana Ton, aku tetap enggak berani menyampaikan isi hatiku kepadanya” Tanyaku kepada Anton. “Gini aja Wan….” dibisikannya sesuatu ketelingaku.

 

          “Oh..iya ada yang ingin tak sampaikan kekamu. Tadi aku ditelepon Tita, dia cerita banyak ke aku. Katanya dia kepingin ngeband lagi. Kan sudah satu tahun ini kita enggak pernah latihan dan manggung lagi. Ya aku bilang aja kalau aku juga sama seperti dia. Dan kebetulan Pak Joko menyuruh Grup Band kita untuk tampil mengisi di acara perpisahan di sekolah kita. Gimana Wan, mau enggak? Adi dan Tita sudah bersedia, giliran kamu nih” Pinta si Anton kepadaku. Pikirku memang sudah lama kita enggak pernah latihan. “ Aku juga bersedia deh Ton, hitung-hitung sebagai hadiah perpisahan.”Nah gitu donk, jangan belajar terus kerjaannya, Nanti aku kasih tahu mereka deh”

 

          Suasana malam ini terasa begitu sunyi. Gemerlap bintang-bintang tak bisa mengusir rasa sepi yang ada di hatiku saat ini. Musik panggung hanya bisa menggetarkan jiwaku sesekali. Hingar bingar pesta perpisahan sekolahku hanyalah milik sebagian orang. Aku lebih banyak berdiam diri di Pesta perpisahan ini, entah kenapa malas benget untuk gabung dengan teman-teman yang lain. Sejak tadi kulihat Tita selalu bersama-sama dengan Adi, Tita kelihatan cantik dengan gaun berwarna biru yang melekat ditubuhnya, perfectly.

 

          “Selanjutnya kita saksikan penampilan Puzle Band”. Oh, giliran grup band kita rupanya untuk tampil. Aku pun bersama-sama Tita, Anton dan Adi menaiki panggung tempat pentas. Rupanya aku agak grogi juga untuk tampil kali ini. Padahal jam terbang kita sudah cukup tinggi. Kita sudah sering pentas diberbagai acara musik. Mungkin karena sudah lama aku enggak pernah tampil, kataku dalam hati.”Terimah kasih untuk teman-teman, lagu ini saya persembahkan untuk orang yang selalu menjadi Mahadewiku. Padi dengan Mahadewi” kuhela nafasku setelah mengatakan itu semua.

 

          Ah akhirnya selesai juga. Kuhempaskan diriku dibangku penonton sambil kusedot botol minumku. “keren Wan, Top penampilan kalian” Setiap teman yang lewat didepanku memberikan selamat atas penampilan panggung kita. Ternyata sudah lama enggak main kita masih bisa memberikan penampilan yang cukup lumayan mendapat tepuk tangan meriah penonton. Ehm, kayaknya acara tukar kado sudah dimulai. Acara tukar kado adalah acara yang selalu menjadi bagian acara perpisahan sekolah. Pada acara ini setiap anak memberikan kado yang dibawahnya. Kemudian mengambil kado secara acak. Pada acara ini kuputuskan untuk mengasihkan Puzle heart yang kubeli dulu sebagai kado perpisahan. Aku berharap si Tita yang akan mendapatkannya. “Tita” panggil pak Joko kepadanya. Rupanya giliran Tita yang akan mengambil kado perpisahan. Ya Tuhan, semoga Kadoku yang diambilnya, doaku didalam hati.

 

Jogjakarta, 6 Juli

          Sudah 3 bulan ini aku berada di jogja, melanjutkan studiku di fakultas Kedokteran UGM. Lingkungan kota jogja yang nyaman merupakan tempat yang cocok untuk menimba ilmu disini. Oleh karena itu jogja terkenal dengan sebutan kota pelajar. Hampir setiap orang yang lewat didepan rumah Budeku pasti pelajar, umumnya mereka para pendatang dari daerah luar jogja, termasuk aku. Bagiku kota Jakarta sudah terlalu sumpek dan ruwet, terlalu banyak menyimpan kenangan manis dan pahit kepadaku. Kenangan yang akan mengingatkanku kepada gadis kecil bernama Tita. Sudahlah gak usah diingat-ingat lagi.

 

            “Pos!!”. “Buat siapa pak?” tanyaku kepada petugas pengirim surat. “Buat saudara Iwan Setiawan” Jawab Pak pos kepadaku. “Iya, saya sendiri”. Kuambil segera surat yang dibawa pak pos. Kubuka isi surat tersebut. Lalu perlahan-lahan kubaca tulisan yang tertera dalam surat tersebut

“MAHADEWIKU BERNAMA TITA by IWAN”

 

       It is very  romantic, hingga air mata membasahi pipiku. Kenapa kau tidak mengatakannya dari dulu Wan. Padahal sejak dulu aku selalu berharap untuk menjadi Mahadewimu. Pencarian kita akhirnya usai sudah, walaupun harus lewat sebuah Puzle. Aku mencintaimu Wan dan ingin menjadi Mahadewimu.

 

Dari Mahadewi

 

Tita

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s