MASIH ADA KUPU-KUPU

Posted on Updated on

Pagi yang cerah. Setelah selama seminggu kota metropolitan ini diguyur hujan dan diselimuti awan mendung, akhirnya pagi ini sang surya mulai menampakan wajahnya, menyapa seluruh penghuni kota dengan cahyanya. Sedikit terik, tetapi sinar mentari pagi bagus untuk pertumbuhan tulang kita, karena sinar mentari pagi inilah yang akan mengaktifkan provitamin D menjadi vitamin D. Itulah yang kutahu dan yang kupelajari sewaktu aku masih duduk dibangku kuliah, tepatnya di fakultas biologi di bawah naungan sang pati yang mencentuskan sumpah palapa. Walaupun lulus tidak dengan predikat Cumlaude, paling tidak aku sering mengaplikasikan ilmu yang sudah kudapat dalam kehidupanku sehari-hari. Seperti ketika aku membelikan makanan kecil buat keponakanku yang masih balita, aku pasti akan memperhatikan terlebih dahulu ingredients yang tertera pada label kemasan makanan, apakah mengandung bahan pengawet seperti Natrium Benzoate, bahan pewarna dan bahan penyedap seperti Monosodium Glutamat (MSG).

Namun terkadang produsen makanan sering mengakali konsumen yang sekarang ini mulai sadar untuk mengkonsumsi makanan sehat. Beberapa produsen makanan banyak yang mencantumkan bahan penyedap dengan nama Mononatrium Glutamat. Bagi hampir semua konsumen makanan pasti mengira mereka telah terhindar dari MSG. Padahal Mononatrium Glutamate sama saja dengan Monosodium Glutamat, tepatnya sodium sama dengan natrium. Sodium merupakan bahasa inggris, sedangkan natrium merupakan nama IUPAC. MSG sendiri mempunyai efek negatif terhadap tubuh. 12 gram MSG per hari dapat menimbulkan gangguan lambung, gangguan tidur dan mual-mual. Bahkan beberapa orang ada yang mengalami reaksi alergi berupa gatal, mual dan panas. Tidak hanya itu saja MSG juga dapat memicu hipertensi, asma, kanker serta diabetes, kelumpuhan serta penurunan kecerdasan.
Pagi yang cerah ini kulihat kupu-kupu bertebaran kesana-kemari, berterbangan diantara bunga-bunga, kadang hinggap disalah satu bunga, mencari setitik nektar, lalu terbang tinggi diantara puncuk-puncuk pohon. Banyak sekali jenisnya. Ehm.. untuk yang satu ini kuakui aku paling tidak menguasai. Mengenali jenisnya adalah kerjaan para entomolog dan para ahli taksonomi.
Pagi hari aku memang biasa mengamati kupu-kupu, pepohonan, burung-burung sembari mengajak keponakanku jalan-jalan, hitung-hitung mengenalkan anak kecil pada alam disekitarnya agar ia dapat mencintai lingkungannya. Walaupun faktanya alam sekitarnya telah menjadi gedung-gedung bertingkat, menara-menara tinggi, perkantoran mewah, perumahan elit dan jalanan beraspal.
Hari demi-hari kuamati populasi kupu-kupu ditempatku semakin bertambah, tidak hanya kupu-kupu tetapi juga populasi capung dang burung emprit. Tapi karena aku pecinta keindahan, aku lebih senang mengamati kupu-kupu dibandingkan dengan yang lain, karena kupu-kupu identik dengan keindahan, keanggunan dan kecantikan. Aku pun sering mengkonotasikan keindahan lewat perumpamaan kupu-kupu dalam berbagai puisiku. Seperti ini ”Laksana kupu-kupu yang menghiasi taman bunga, kau hiasi taman hatiku dengan cintamu”.
Bila ingat puisi ini maka aku akan teringat detik-detik terakhir perpisahanku dengan mantan kekasihku. Aku tidak pernah mengira setelah lebih dari dua tahun kita merajut asa dan mengarungi mimpi bersama, kita akhirnya harus berpisah untuk kembali menjalani kehidupan kita masing-masing. Seperti yang orang sering bilang ”ada awal pasti ada akhir, ada pertemuan pasti ada perpisahan”. Dan ini merupakan akhir dari perjalanan cinta kita berdua, walaupun kuharap mautlah yang menjadi akhir cinta kita. Tapi semua yang berlalu biarlah berlalu. Vita Brevis, hidup itu singkat, akan coba aku jalani hidup yang singkat ini, walaupun tanpa peri kecil hatiku disampingku. Begitulah aku memanggilnya, kalau tidak salah aku pertama kali memanggilnya demikian lewat puisiku yang kuberi judul Tirai Hati, karena ia berhasil telah membuka tirai hatiku, menancapkan panah cupid tepat dijantungku dengan sihir lembutnya ia berhasil mengikat jiwaku.
Dalam benakku aku sempat berpikir, kenapa populasi kupu-kupu masih bisa berkembang di kota metropolitan ini. Kota yang bising, sesak, penuh polusi, dan sedikit ruang terbuka hijau. Aku jadi teringat pada abad 17 terjadi revolusi industri di Inggris. Revolusi yang dipicu oleh perubahan politik besar-besaran di inggris, investai kekayaan/modal yang mengalir ke Inggris, tenaga kerja murah, perkembangan kemajuan di bidang pertambangan, pengembangan jalan transportasi barang, dan perkembangan ilmu dan teknologi di Inggris yang ditandai dengan adanya penemuan-penemuan baru. Seperti penemuan mesin uap oleh James Watt.
Revolusi ini yang mengakibatkan timbulnya imperialisme modern pada sekitar tahun 1870 yang menguasai dan menjajah bangsa-bangsa di Asia-Afrika. Begitulah yang tertulis dalam buku-buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah. Sedangkan yang tertulis di dalam buku pelajaran biologi adalah revolusi industri di Inggris telah mengakibatkan menghilangnya populasi kupu-kupu berwarna putih di Boston dan meningkatnya populasi kupu-kupu berwarna hitam. Ada beberapa hipotesis yang berusaha menerangkan fenomena ini. Hipotesis pertama menyebutkan, kupu-kupu putih tidak menghilang, melainkan mengalami adaptasi/modifikasi (entah istilah mana yang benar), kupu-kupu putih telah beradaptasi/modifikasi menjadi kupu-kupu hitam. Sehingga ia bisa tetap survive diantara asap-asap industri di Boston. Hipotesis kedua menyebutkan, kupu-kupu putih tidak dapat survive, karena dengan warnanya yang mencolok ia sangat mudah dimangsa, sedangkan kupu-kupu hitam dengan warnanya yang gelap dapat survive dan berkembang biak lebih banyak. Keadaan ini sering kita sebut seleksi alam dan di kota metropolitan yang keras ini seleksi alam sungguh-sungguh berlaku.
Entah faktor apa yang menyebabkan aku masih bisa menemukan kupu-kupu yang beraneka warna di daerah perumahanku ini, mungkinkah karena adanya pepohonan hijau atau karena banyaknya tanaman hias yang menghiasi perkarangan rumah. Sebagai biolog seharusnya aku mengobservasinya, menggabungkan fakta empirik dan teori yang ada untuk menjadi sebuah kesimpulan. Tapi itu dulu sewaktu aku masih duduk dibangku kuliah.
Memang sewaktu kuliah dulu, aku dan dua temanku sangat aktif dalam kegiatan penelitian, kami bertiga mempunyai Curiosity yang tinggi terhadap suatu hal. Kami sering mencoba mencari manfaat bahan yang tidak terpakai dan menjadi buangan. Oleh karenanya kami sering ditegur kepala laboratorium karena sering membuat laboratorium menjadi bau dan kotor oleh bahan penelitian kami. Tapi semua jerih payah kami menuai hasil dan prestasi, kami berhasil menyabet juara dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional. Tapi ternyata diantara kami tidak ada yang berhasil menjadi peneliti. Tapi aku tidak perlu menyebutkan apa perkerjaan kami sekarang, karena jalan masih panjang, pekerjaan kami masih bisa berganti. Tapi kami punya pekerjaan yang sama, kami adalah seorang penulis, walaupun tulisan kami belum bisa dikomersilkan, karena bukan itu tujuan kami menulis. Tapi mungkin memang tidak ada penerbit yang mau menerbitkannya, walaupun kami belum pernah mencobanya. Mungkin suatu saat nanti.
Lagi pula untuk apa aku harus mencari tahu penyebab keberadaan kupu-kupu ini meningkat, untuk sebuah naskah ilmiah yang nantinya akan menjadi pelengkap rak-rak perpustakaan, untuk jadi pertimbangan pemerintah daerah dalam menata kota atau untuk bahan diskusi seminar yang sifatnya seremonial. Kurasa keberadaan kupu-kupu tidaklah begitu penting bagi sebagian orang di kota metropolitan ini. Bukankah keberadaanya sudah digantikan oleh para pekerja seks komersial atau yang lebih di kenal dengan kupu-kupu malam. Di kota-kota, merekalah yang lebih dibutuhkan untuk dijadikan hiburan malam.
Tapi lihat anak kecil itu! Anak kecil itu berusaha menangkap kupu-kupu itu dengan tangannya, dia berlarian kesana-kemari, terlihat kegembiraan dari raut wajahnya, kadang ia berteriak ”horee” ketika berhasil menangkap seekor kupu-kupu dengan tangannya, walaupun akhirnya terlepas lagi atau menangis kesakitan karena terjatuh akibat mengejar kupu-kupu. Semuanya kelihatan begitu menyenangkan dan mengasyikan. Mengapa kita tidak melakukannya untuk anak kecil itu? Berusaha menjaga keberadaan kupu-kupu, tidak hanya kupu-kupu, banyak hal yang keberadaanya harus dijaga di kota ini. Ehm.. aku jadi teringat nasib pembangunan taman kupu-kupu di kota gudeg, pembangunannya sampai sekarang masih terbengkalai, tidak jelas apakah dilanjutkan atau dihentikan.
Kembali kulihat seekor kupu-kupu hinggap di salah satu bunga, kali ini ia hinggap di pohon melati di halaman rumahku. Merasa terganggu dengan kehadiranku, ia kembali terbang, berusaha menjauh dari tempatku berdiri. Sepasang kupu-kupu yang lain terbang bersama-sama mengitari pohon kamboja, mengelilingi bunga yang sedang bermekaran, yang masih basah oleh embun pagi. Sepertinya mereka tidak terusik dengan kehadiranku. Mungkin apa yang berlaku pada manusia juga berlaku pada mereka, ketika kupu-kupu sedang memadu kasih, dunia seolah milik mereka berdua. Sehingga mereka tidak menghiraukan kehadiranku. Aku pun tersenyum dalam hati. Ah.. sudah waktunya aku siap-siap berangkat kerja. Kuharap esok aku masih bisa melihatmu diantara pepohonan, dedaunan dan bunga-bunga.

Iklan

2 thoughts on “MASIH ADA KUPU-KUPU

    LISNA said:
    Oktober 19, 2008 pukul 6:34 pm

    Manusia memang sering tidak sadar kalau banyak tindakannya yang merusak alam.mereka baru sadar ketika bencana datang. keep u’r spirit

    Cakra said:
    Oktober 19, 2008 pukul 6:42 pm

    tulisannya lumayan bagus dan menginspirasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s